RSUD Ciptakan Pengelolaan Limbah Mandiri Ramah Lingkungan

RSUD Ciptakan Pengelolaan Limbah Mandiri Ramah Lingkungan

DIOLAH: Petugas pengelolaan limbah rumah sakit tengah mengolah limbah medis yang mengandung limbah B3 sebelum dibuang ke tempat sampah, kemarin. (ASEP HERDIANA/SUMEKS)

PEWARTA: asep herdian

Seiring dengan berkembangnya dunia medis, bertambah juga sampah medis yang dihasilkan. Hal itu menuntut setiap intansi medis yakni rumah sakit untuk memiliki sistem pengelolaan sampah atau limbah medis terpadu yang mandiri. Salah satunya yang dilakukan RSUD Sumedang dalam menciptakan sampah medis ramah lingkungan. Berikut liputannya.

ASEP HERDIANA, Kota

LIMBAH rumah sakit, tidak hanya menghasilkan limbah organik dan anorganik, tetapi juga limbah infeksius yang mengandung bahan beracun berbahaya (B3). Dari keseluruhan limbah rumah sakit, sekitar 10 sampai 15 persen di antaranya merupakan limbah infeksius yang mengandung logam berat, antara lain mercuri (Hg).

Sekitar 40 persen lainnya adalah limbah organik yang berasal dari sisa makanan, baik dari pasien dan keluarga pasien maupun dapur gizi. Sisanya merupakan limbah anorganik dalam bentuk botol bekas infus dan plastik.

Sehingga, wajar apabila RSUD Sumedang memiliki instalasi pengelolaan limbah mandiri agar tidak mencemari lingkungan lain. Hal tersebut sudah diterapkan oleh RSUD Sumedang dengan sistem pengelolaan limbah melalui Instalasi Pengelolaan Lingkungan (IPL).

Direktur RSUD Sumedang, dr. Hilman Taufik melalui Humas, Iman Budiman mengatakan itu sudah komitmen RSUD Sumeadng, untuk terus meningkatkan pelayanan dalam segala aspek.

Sebagai rumah sakit yang meraih prestasi Bintang Lima atau akreditasi Paripurna, kata Iman, RSUD Sumedang terus meningkatkan kompetensi selain untuk penyediaan pelayanan kesehatan kepada pasien. Akan tetapi dalam bidang pengelolaan lingkungan juga terus ditingkatkan.

Di gedung IPL yang terletak di sudut barat RSUD, sampah medis ditampung yang kemudian dipilah menjadi beberapa kelompok. Ada yang berupa plastik, cairan hingga logam dibedakan penanganannya.

“Sampah medis kan beda-beda bentuknya, dari mulai cair, logam dan plastik. Dan semuanya juga berbeda penanganannya. Kami pun bekerjasama dengan perusahaan swasta untuk menangani limbah ini,” ujar Direktur RSUD Sumedang, melalui Humas, Iman Budiman saat ditemui di kantornya, Jumat (12/8).

Untuk limbah plastik, sebelum di limpahkan ke pihak swasta, terlebih dahulu dihancurkan atau diperkecil ukurangnya sehingga bisa lebih mempermudah dalam penanganannya. Sampah B3 plastik meliputi botol bekas cairan infus, jerigen, selang dan badan suntikan tanpa jarum.

“Jadi kalau jerigen, botol infus yang plastik seperti itu, kita hancurkan dulu atau dipotong menggunakan mesin penghancur. Kemudian dikemas kedalam karung untuk dilimpahkan ke perusahaan pengelola limbah untuk ditangani,” lanjut Iman.

Iman juga menjelaskan, pengelolaam limbah rumah sakit adalah bagian dari kegiatan penyehatan lingkungan di rumah sakit yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari limbah rumah sakit.

“Sebagaimana termaktub dalam Undang-undang No. 9 tahun 1990 tentang Pokok-pokok Kesehatan, bahwa setiap warga berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya,” Jelasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.