Sarana Olahraga di Daerah Pelosok Masih Minim

Sarana Olahraga di Daerah Pelosok Masih Minim

BEROLAHRAGA: Sejumlah anak-anak di Desa Mekar Asih Kecamatan Jatigede bermain bola volly tanpa net karena minimnya sarana yang ada.(HERI PURNAMA/SUMEKS)

PEWARTA: HERI PURNAMA/SUMEKS

Anak-anak Main Bola Volly Tanpa Net

Wilayah pelosok, sudah semestinya mendapat perhatian yang sama dengan wilayah yang berada di wilayah perkotaan. Seperti yang terjadi di Desa Mekar Asih Kecamatan Jatigede, selain sarana pendidikan dan akses infrastruktur yang masih lemah, ternyata wilayah tersebut juga masih minim dalam segi sarana olahraga. Berikut liputannya.

HERI PURNAMA, Jatigede
POTENSI yang ada di setiap wilayah, akan muncul dengan sendirinya ketika fasilitasnya sudah memadai. Beda halnya dengan fasilitas yang minim. Sebesar apapun potensi yang ada, tidak jadi jaminan bisa berkembang tanpa adanya sarana penunjang.

Mekar Asih salah satu desa yang terpencil, bahkan nyaris terisolir setelah adanya Waduk Jatigede, mematikan akses jalan ke pusat perkotaan Kecamatan Jatigede. Selama ini, pasca genangan waduk tersebut, warga harus menggunakan akses jalan lewat Kecamatan Jatinunggal.

Namun, itu bukan satu-satunya keluhan yang dilontarkan oleh warga. Satu per satu aspirasi masyarakat bermunculan. Termasuk keluhannya mengenai sarana olahraga, yang masih perlu jadi pemikiran pemerintah dan intansi terkait.

Salah seorang warga Desa Mekar Asih, Sihabudin, 40, menyebutkan, bahwa pada dasarnya anak-anaknya perlu fasilitas yang sama dengan wilayah lain yang ada di perkotaan. Sebab untuk bermain volly saja, anak-anaknya tidak bisa bermain sebagaimana mestinya.

“Saya sedih ketika melihat anak-anak harus bermain volly tanpa net,” katanya kepada Sumeks, Kamis (26/7).
Dalam hal ini, bukan hanya di lingkungan desa saja yang sarana prasarana olahraganya masih minim. Tapi di lingkungan sekolah, pun masih perlu diperhatikan.

Salah satu contoh di sekolah swasta SMP Bina Harapan Jatigede yang ada di lingkungan pemukiman warga terdampak Waduk Jatigede yang berpindah ke Desa Mekar Asih. Masih banyak sarana olahraga yang perlu dibangun, padahal meski tidak ada di lingkungan desa sarana olahraga tersebut, seharusnya bisa didapatkan oleh anak-anak di lingkungan sekolahnya.

“Bukan hanya di desa saja, di sekolah juga sama. Masih minim,” tuturnya.

Pada dasarnya, saat sarana olahraga sudah memadai di wilayah tersebut, tidak menutup kemungkinan ada celah untuk generasi muda mengembangkan bakatnya agar bisa menjadi atlet.

“Banyak bakat yang tidak tersalurkan karena minimnya fasilitas,” tukasnya. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.