Satpol Tindak Tegas Perusahaan Tak Berizin

Peliput/Editor: iqbal/iman nurman

Satpol Tindak Tegas Perusahaan Tak Berizin

DITUTUP: Dua petugas Satpol PP Sumedang menutup Kafe Gigglebox di Jalan Jatinangor, Desa Cibeusi, belum lama ini. (MUHAMAD IQBAL/SUMEKS)

CIMANGGUNG- Penutupan Kafe Giggle Box di Jalan Ir Soekarno Jatinangor Desa Cibeusi menjadi perhatian serius sejumlah anggota DPRD dan masyarakat. Pasalnya, kondisi serupa juga mungkin terjadi di kawasan perkotaan Jatinangor yang banyak berdiri pusat bisnis.

Anggta DPRD Kabupaten Sumedang, Atang Setiawan berharap tindakan tersebut menjadi shock therapi bagi pengusaha-pengusaha nakal lainnya. “Itu hanya sampel, masih banyak ratusan pengusaha lainnya yang membuka lapak usaha tanpa izin,” ujarnya dalam suatu kegiatan di Desa Sindangpakuon Kecamatan Cimanggung, belum lama ini.

Menurut Anggota Dewan yang duduk di Komisi A itu, semua penguasaha mesti tunduk kepada aturan yang berlaku di Kabupaten Sumedang. Namun dalam hal ini, kata dia, Pemda seolah tak berdaya.

“Pada kenyataannya berdasarkan pantauan kami masih banyak tempat-tempat usaha yang tidak memiliki izin merajalela. Seperti halnya Giggle Box tersebut kenapa baru sekarang ditutup,” ucapnya.

Untuk itu, ia menekankan, Pemkab harus lebih berani menindaklanjuti masalah-masalah tersebut dengan menegakan aturan dan wibawa Pemkab itu sendiri. “Secara administrati DPRD tidak bisa mengeluarkan perintah pemberhentian kepada pengusaha, tapi menekankan ke eksekutif untuk menegakan aturan,” tekannya.

Ia sendiri menilai kawasan Jatinangor memang kawasanyang bagus untuk bisnis dan mengundang investor, pengawasan perizinannya juga mesti ketat. “Peluang bisnis di Jatinangor itu besar, namun potensi pelanggarannya juga besar, eksekutif harus mau bertindak jangan ada pembiaran,” tekannya lagi.

Terkahir, ia menambahkan, dengan beragai temuan data berbagai pelanggaran, itu sudah menjadi alasan yang kuat bagi eksekutif unuk bertindak tegas bagi setiap pelanggar itu sendiri. “Sebenarnya alasan untuk berbuat tugas itu sudah kuat,” tambahnya.

Sekretaris Paguyuban Pasundan Kecamatan Jatinangor, Agus Bustanul mengatakan memang yang terjadi di Giggle Box itu cukup rumit. Pertama, terkait izin memang peruntukannya bukan untuk kafe. Tidak boleh, katanya, satu bangunan dijadikan dua tempat usaha yang berbeda.

“Misalnya, izinnya mau bikin perumahan, ternyata apartemen. Meski sama-sama untuk hunian, kan melanggar aturan. Tak jauh beda dengan Giggle Box, tadinya untuk pusat kreatifitas, jadi kafe,” katanya.

Agus pun menyoroti terkait analisis mengenai dampak lalu lintsa (Amdalalin) karena dinilai melanggar. Sebab, halaman parkir kafe itu memakan trotoar jalan nasional. Juga jarak antara bangunan ke jalan cepat itu sangat dekat. (iqi/imn)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.