Saung Bako, Fasilitasi Perokok di Lingkungan Kecamatan Jatinangor

Saung Bako, Fasilitasi Perokok di Lingkungan Kecamatan Jatinangor

NGADU BAKO: Aparat pemerintah Kecamatan Jatinangor mengadu bako di Saung Bako belakang kantor kecamatan, kemarin. FOTO: IMAN NURMAN/JATEKS

Peliput/Editor: iman nurman

Tidak bisa dipungkiri kebiasaan merokok menjadi budaya yang tak bisa dipisahkan dari masyarakat Indonesia. Meski hal itu kebiasaan buruk, tetapi hampir setiap tempat menjadi penghisap rokok aktif. Agar polusinya tidak mencemari yang tidak merokok dan wanita, kecamatan Jatinangor membangun Saung Ngadu Bako. Berikut catatannya.

IMAN NURMAN, Jatinangor

Ruangannya memang kecil, atapnya juga dari ijuk dan jerami. Sengaja tidak disekat dinding agar ventilasi udara bisa bebas keluar masuk. Tempat duduknya yang terbuat dari kayu dan potongan pohon itu menambah suasana asri saung ngadu bako milik pemerintah kecamatan Jatinangor.

Ya, di tempat itulah para penikmat tembakau menghabiskan rokoknya. Sengaja pemerintah kecamatan yang lalu membuat saung ngadu bako itu untuk memfasilitasi orang yang merokok. Sekaligus menekan angkat perokok pasif yang terserang asap rokok.

Saung tersebut didirikan guna memberikan kesadaran bagi masyarakat Kecamatan Jatinangor untuk tidak merokok di sembarang tempat.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, saung tersebut dibangun atas dasar inisiatif Camat Jatinangor, sejak setahun yang lalu.

Camat Jatinangor, Ida Farida mengatakan, saung tersebut sengaja dibangun sebagai salah satu upaya untuk turut serta menkampanyekan hidup sehat.

“Selain itu, saung ngerokok juga dibuat agar para abdi negara tidak lagi merokok di dalam ruangan saat melayani masyarakat,” ujar Ida, Kamis (15/10).
Ida menambahkan, dengan adanya saung tersebut juga dapat membantu mengurangi dampak negatif dari paparan asap rokok yang dapat menggangu kebersihan serta kesehatan lingkungan.

Menurut Ida, langkah pelarangan para staf pemerintah kecamatan dan masyarakat untuk tidak meroko di sembarang tempat terutama di Kantor Kecamatan Jatinangor merupakan bentuk penyelamatan bagi perokok pasif.

“Adanya saung ini semoga menjadi langkah sosialisasi sekaligus aparat pemerintah juga memberikan contoh nyata bagi masyarakat,” katanya.

Ida menambahkan, adanya saung tersebut juga begitu diapresiasi oleh masyarakag sekitar. Tak jarang masyarakat juga ikut mentaati peraturan yang ada di kantor kecamatan.

“Ada juga warga yang datang ke kantor mengurusi surat admiistrasi masih merokok sembarangan, kami juga lakukan peringatan,” ujarnya.

Ida mengaku, kehadiran saung adu bako di area kecamatan secara tidak langsung memberikan terapi agar para pecandu rokok lambat laun dapat berhenti mereokok.

Dengan adanya saung ngaroko, lanjut Ida, para perokok yang juga aparat Pemerintah Kecamatan Jatinangor sudah banyak yang mengurangi rokok dan beralih menyibukkan diri melayani masyarakat, terutama bagi dirinya.

“Banyak yang sudah mengurangi konsumsi rokok, contohnya aparat kecamatan, sehari biasanya bisa merokok lebih dari 6 batang. Tapi sejak ada saung paling sehati satu atau dua batang,” ujarnya.

Ida mengatakan, saung adu bako sangat berdampak bagi penciptaan lingkungan yang bersih, segar, serta bebas paparan asap rokok yang menjadi misi utama Pemerintah Kecamatan Jatinangor. Bahkan, adanya saung tersebut diharapkan dijaidkan contoh oleh masyarakat sekitar, terutama di kantor-kantor desa yang ada di wialayah Kecamatan Jtatinangor.

“Seyogyanya, di rumah-rumah atau kantor desa ada ruangan khusus bagi para perokok. Agar paparan asap rokok tidak dirasakan oleh orang tang tidka merokok, terutama anak-anak,” katanya. (*)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.