Menu
Categories
Sekolah Rugi 1,5 Miliar **Polisi: Belum Ada Laporan Resmi
11 Juli 2019 Headline

KOTA – Sebanyak tujuh sekolah di Kecamatan Sumedang selatan mengalami kerugian materiil dan imateriil, hingga Rp 1,5 Miliar. Hal itu setelah bangunan sekolah mereka dibongkar ulah kontraktor Siluman.

Pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, sebelumnya akan melaporkan kejadian yang erat dugaan dengan penipuan tersebut ke polisi. Namun pihak kepolisian sejauh ini mengaku belum menerima laporan tersebut.

”Informasi ada, tapi kami belum menerima laporan resmi,” kata Kasatreskrim Polres Sumedang AKP Dede Iskandar saat ditemui Sumeks di ruang kerjanya, Kamis (11/7).

Kendati demikian, sebut Dede sebagai aparat penegak hukum, pihaknya bisa dan boleh melakukan penyelidikan setiap dugaan tindak pidana.

”Lidik ada yang sifatnya terbuka dan ada yang tertutup. Karena lidik, untuk membuktikan sesuatu perkara. Apakah mengandung unsur pidana atau tidak,” tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Eka Ganjar mengaku telah mengintruksikan ke tujuh kepala sekolah yang merasa tertipu itu, untuk melapor kepada pihak kepolisian.

”Sekolah sudah meloparkan secara lisan dan pihak Polres sudah on the spot ke lapangan untuk mengecek sekolah-sekolah tersebut,” ungkap Eka saat diwawancara Sumedang Ekspres.

Tujuh sekolah yang diindikasi tertipu kontraktor siluman itu, yakni SDN Manangga, SDN Baginda 1, SDN Baginda 2, SDN Sukamanah, SDN Pasarean, SDN Tenjo Nagara dan SDN Darangdan. Sekolah-sekolah tersebut saat ini sudah dibongkar bagian atapnya.

Meski sudah ada bukti otentik adanya pembongkaran sekolah, namun sejauh ini Eka belum dapat memastikan apakah aksi pembongkaran itu sebagai bentuk penipuan. Dia beralasan, pihaknya belum menemukan adanya fakta-fakta pendukung ke arah penipuan, seperti meminta uang dalam jumlah besar atau yang lainnya.

”Hanya saja, dari pengecekan ke Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian PUPR, program rehabilitasi tersebut memang tidak ada,” katanya.

Lebih parahnya lagi, keberadaan Kantor PT Horison pun tidak bisa ditemukan termasuk nomor kontak DD, sang konsultan PT tersebut, tidak bisa dihubungi.

Akibat dari pembongkaran tujuh sekolah itu, kerugian ditaksir mencapai Rp 1,5 Miliar. ”Kami akan menelusuri itu dan meminta pertanggung jawaban dari orang yang membongkar,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga akan mengusulkan ke Pemerintah Derah, untuk menganggarkan biaya perbaikan. ”Kita tidak bisa diam begitu saja menunggu pertanggungjawaban pelaku, karena kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala SDN Manangga, Eli Cuhaeli, hingga saat ini susah untuk ditemui wartawan. (nur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

** *