Sumedang Ekspres

Bacaan Utama Warga Sumedang

sumeks_image

RIAS PENGANTIN: Seorang perias sedang merias pengantin sebelum masa pandemi covid-19, belum lama ini. IST

Semasa Pandemi, Bisnis Rias Pengantin Anjlok

SUMEDANGEKSPRES.COM – Dampak pandemi covid-19, seluruh sektor usaha sangat terdampak. Salahsatunya sektor usaha dekorasi dan rias pengantin di Kabupaten Sumedang. Sejumlah pengusaha dekorasi dan rias pengantin, mengaku omzetnya menurun hingga 95 persen.

Seperti yang diungkapkan Ai Nurul pemilik rias pengantin Geri Wedding Service Desa Cibeusi Kecamatan Jatinangor. Sejak bulan Maret hingga Mei, omzet usaha jasa dekorasi dan rias pengantin miliknya, turun hingga 95 persen.

“Bahkan yang udah jauh-jauh hari booking sebelum pandemi banyak yang undur jadwal sampai waktu yang belum ditentukan. Tentu yang udah masuk DP (down payment) juga pada ngebatalin,” kata perempuan yang akrab disapa Ai Oncom pada Sumeks, Senin (29/6).

Biasanya, sambung ibu tiga anak ini, dalam sehari, bisa mendapatkan pelanggan 2-10 orang. Kadang juga bisa sampai 15 pelanggan. “Sekarang dapat satu aja susah, karena kan gak boleh ada resepsi. Ditambah mahasiswa yang wisuda, siswa perpisahan dan make up pesta juga menurun lantaran pandemi,” ungkap pemilik usaha di Dusun Bojongereun Desa Cibeusi Kecamatan Jatinangor ini.

Memasuki transisi new normal sekarang ini, diungkapkan Ai, sudah ada beberapa orang yang bertanya dan konsultasi padanya. Namun saat ini, belum boleh ada pesta sehingga hanya jasa make up saja yang digunakan.

“Kalaupun ada pelanggan tetap terapkan protokol kesehatan seperti pakai masker, sedia hand sanitizer dan sarung tangan. Kalau untuk alat make up setelah selesai dipakai akan langsung dicuci. Semoga keadaan bisa kembali seperti biasa. Walaupun tidak secepat kilat naiknya setidaknya ada perkembangan semakin hari untuk kami para MUA dan Wedding Organizer ini,” terangnya.

Di Sumedang, lanjut dia, simulasi resepsi sudah dilakukan bersama Bupati Sumedang H Dony Ahmad Munir beberapa waktu lalu. Hanya saja, kata dia, belum sampai ke masyarakat luas sehingga sebagian warga masih was-was menyelenggarakan resepsi pernikahan.

“Kasian juga pemilik organ tunggal dan dangdut, gamelan, pop sunda. Mereka gak ada job lantaran gak boleh ada hiburan. Kalau make up masih bisa dor to dor, kalau hajatan besar hiburan masih bertahap,” katanya. Dia mengungkapkan akibat pandemi ini omzet ratusan juta raib. Bahkan, tak sedikit pengusaba Wedding Organizer gulung tikar lantaran tak bisa menutupi biaya produksi. “Sebagian rekan juga ada yang menjual asetnya. Seperti tenda, dekorasi, dan alat masak. Mereka menjual dengan alasan untuk makan dan gajih pegawai sehari-hari,” tandasnya. (imn)