Seminar Internasional Budaya Sunda

Seminar Internasional Budaya Sunda

SEMINAR BUDAYA: Gabriel Laufer (etnomusikolog) dan Sarah Anais Anderieu (Peneliti Budaya Sunda) asal Prancis menjadi narasumber Seminar Internasional Budaya Sunda di Aula Gedung Negara Kabupaten Sumedang, Minggu (17/3). (IIS SULASTRI-AYI SAEPULLOH/SUMEKS)

PEWARTA: ADV/CR1

*Jembatan Sumedang Go Internasional

KOTA – Pemerintah Kabupaten Sumedang, menggelar Seminar Internasional Budaya Sunda dengan menghadirkan dua narasumber berasal dari Prancis Gabriel Laufer (etnomusikolog) dan Sarah Anais Anderieu (Peneliti Budaya Sunda), Minggu (17/3). Sebanyak 250 peserta dari unsur pemerintah, budayawan, seniman serta akdemisi, memenuhi Aula Gedung Negara Kabupaten Sumedang.

Seminar bertajuk “Gamelan Sarioneng Parakansalak, Budaya Sunda dan Tantangan Era Industri 4.0” ini, dibuka langsung Bupati Sumedang, H Dony Ahmad Munir ST MM. Sebelum membuka acara, Dony sempat menyampaikan beberapa hal dalam sambutannya.

“Acara Seminar Internasional Budaya Sunda, Gamelan Sarioneng Parakansalak Budaya Sunda dan Tanatangan Era Industri 4.0 ini, mewujudkan Sumedang Simpati 2023. Yaitu salahsatu misinya yang ketiga, mengembangkan wilayah ekonomi didukung dengan peningkatan infrastruktur dan daya dukung lingkungan serta penguatan budaya dan kearifan lokal,” tuturnya dalam memberikan sambutan.

Selain itu, bupati menyampaikan dukungannya terhadap acara tersebut, hingga rencana penggelaran konser pada Mei 2019, sebagai langkah agar budaya Sunda dikenal secara Internasional. “Kita mendorong Seni Budaya Sumedang ini dikenal di tingkat Internasional. Antara lain, melalui ajang Exposition Universele di Prancis Tahun 1889. Itu akan direkontruksi di Jakarta pada 11 Mei, sehingga Seni Budaya Sunda khususnya Gamelan Sarioneng Parakansalak dikenal di kancah nasional bahkan internasional, hingga diharapkan berdampak pada investasi pada ekonomi pariwisata,” jelasnya.

Gabriel, selaku narasumber memaparkan ceritanya hingga bertemu dengan Gamelan Sarioneng Parakansalak, yang ada di Museum Prabu Geusan Ulun Kabupaten Sumedang. “Saya orang Prancis, tapi lahir di Belgia dan Tahun 1996. Saya pertama kali memainkan Gamelan di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia),” ujarnya saat mengawali perbincangan dalam forum Seminar.

Gabriel menceritakan perjalanannya memperdalam kebudayaan Indonesia, melalui tayangan dokumentasi foto-foto iklan gamelan yang dihadirkan di Prancis pada Tahun 1889, dalam Exposition Universele. Kemudian, foto penari Wonogiri beserta lukisan-lukisannya dan juga sempat memutarkan instrumental yang berdurasi beberapa menit.

“Sebagai penutup, saya mengundang untuk datang pada konser 11 Mei di Gedung Simfonia Jakarta.” Ucapnya setelah memaparkan perjalanannya ketika mendalami Gamelan Sarioneng Parakansalak.

Setelah pemaparan Gabriel, materi dilanjutkan narasumber lainnya, Sarah. Dia, membahas tentang Budaya Sunda dan bagaimana wayang bisa menjawab tantangan era industri 4.0. “Budaya itu proses hasil dari pertemuan, seleksi juga konteks sejarah. Dan muncul saat ada kepentingan politik, ekonomi, dan lain-lain,” paparnya ketika memulai penyampaian materi.

Sarah memaparkan pandangannya mengenai kebudayaan, khususnya Budaya Sunda hingga dia mempelajari dan meneliti Wayang Golek sebagai bahan disertasinya. “Wayang bukan tontonan tapi tuntutan politik, agama, serta ekonomi. Industri 4.0 yang menghadirkan cyberspace membuat realitas yang diperbesar ruang dan waktunya, sehingga digital bisa menjadi media pergelaran wayang contohnya pada Wayang Ajen,” jelasnya.

Tidak hanya memanfaatkan media digital sebagai media pergelaran, tapi menurut Sarah, Youtube dan live streaming serta visibiltas rombongan dan komunitas penggemar atau fans, dapat menjadi cara untuk melestarikan Wayang Golek sebagai Budaya Sunda.

Sementara itu, Sekda Kabupaten Sumedang, Drs Herman Suryatman MSi selaku moderator dalam acara seminar tersebut, menutup acara dengan beberapa keyword (kata kunci). “Budaya itu dinamis, sehingga yang relevan itu pertahankan dan yang mulai tidak relevan kita coba evaluasi. Adapun ide dari hasil forum ini menjadi ide berpikir kita semua,” tuturnya.

Sebelumnya, reporter Sumedang Ekspres sempat mewawancarai R Moch Ahmad Wiraatmaja dari pihak Museum Prabu Geusan Ulun, yang sampai sekarang menjaga Gamelan Sarioneng Parakan Salak. “Riwayat perjalanan Gamelan Sarioneng Parakansalak mula-mula pemiliknya adalah tuan Adrian Walvaren Holle. Tuan Holle adalah administrator perkebunan teh di Sukabumi, perkebunan Parakansalak, dia orang Belanda yang senang sekali dengan Budaya Sunda, gamelan cara berpakaian,” ujarnya.

Menurut penjelasannya dari sanalah, Gamelan mulai melanglang jagat ke Negara Belanda dan Prancis. “Setelah keliling-keliling akhirnya di sini, ketika orang Belanda harus pulang ke negerinya, beliau sulit membawa Gamelan tersebut karena kerangkanya besar dan berat. Maka diserahkan kepada mantan Bupati Sukabumi Rd. Aria Adipati Soeriadanoeningrat. Tetapi karena instrumen ini besar dan lebih besar dari biasa yang digunakan hingga ruangnya penuh dan akhirnya dititipkan ke Museum Prabu Geusan Ulun, Yayasan Pangeran Sumedang,” lengkapnya. (adv/cr1)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.