oleh

Seorang Srikandi Harus Pandai Membagi Waktu dan Kasih Sayang

Seorang wanita kelahiran Sumedang, 4 Mei 1972 ini, sebut saja Wawat Suwati mulai meniti kariernya dari perkumpulan pengaosan ibu-ibu. Pada waktu itu, dirinya dipercaya menjadi ketua Muslimat di Desa Sukamenak Kecamatan Darmaraja.

Kemudian, di tahun 2011 Wawat melibatkan diri menjadi kader di desa tersebut. Hal itu karena tuntutan, sebab suaminya  pada saat itu aktif jadi Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Selain itu, dirinya juga aktif menjadi pengajar di salah satu Kelompok Bermain (KOBER) yang ada di lingkungannya.

Terlihat tekun dan sabar dalam mengasuh dan mengajarkan anak didiknya, para orang tua siswa Kober tersebut mendorong agar Wawat mau mencalonkan diri jadi Kepala Desa Sukamenak.

“Awalnya saya aktif di kepengurusan pengajian ibu-ibu, tapi saya di dorong masyarakat terutama dari kaum wanita untuk mencalonkan diri jadi Kepala Desa,” ujarnya.

Selanjutnya, pada tahun 2018, dirinya juga mengikuti dorongan dari masyarakat untuk ikut dalam pesta demokrasi dalam pilkades serentak.

Dan pada saat itu, Wawat menjadi satu-satunya calon kades perempuan di desa tersebut. Bahkan keberuntungan juga berpihak kepada seorang ibu dari 5 orang anak tersebut sehingga akhirnya menjabat menjadi kepala desa.

Hingga saat ini, Karier Wawat tengah berada pada posisi menjadi seorang pemimpin di Desa Sukamenak.

Diakuinya, untuk menjadi Kepala Desa Sukamenak, memang prosesnya tidak semudah membalikan telapak tangan. Hanya saja, ada hal yang lebih sulit lagi ketika sudah menjadi kades.

Sebab, saat ini jiwa raganya di baktikan untuk dua kepentingan yaitu untuk masyarakat dan keluarganya. Ada kalanya jiwa seorang pemimpinnya itu harus di simpan saat berada di rumah.

“Saya akui, ada dua hal yang harus saya pertanggung jawabkan, profesi saya sabagai seorang kepala desa dan ketentuan saya menjadi seorang ibu bagi anak-anak juga istri bagi suami saya,” terangnya.

Baca Juga  ICMI-MCKN Tanami Lahan Kosong Jatigede

Namun demikian, dirinya optimis hal itu bisa dilaluinya dengan bijak. Sebab, sampai saat ini sudah satu tahun lebih menjabat kepala desa naluri seorang ibu dan istri tidak pernah pudar oleh profesinya.

“Sampai saat ini alhamdulilah, saya masih bisa membagi waktu untuk anak dan suami saya, tanpa harus meninggalkan tugas saya jadi seorang kades,” tuturnya. **

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed