Setahun, Status “Janda Baru” Capai Tiga Ribu Orang

Peliput/Editor: Sobar Bahtiar/iman nurman

Setahun, Status “Janda Baru” Capai Tiga Ribu Orang

Sidang Perceraian di Pengadilan Agama (foto net)

KOTA- Imbas maraknya perceraian di Kabupaten Sumedang, mengakibatkan ribuan anak harus kehilangan belaian kasih sayang orang tua atau terlantar. Menurut data yang dihimpun Sumeks dari Kantor Kementrian Agama Kabupaten Sumedang, angka perceraian tahun 2014 mencapai 3583 pasangan. Jika dikalikan masing-masing memiliki jumlah anak 2 maka akan menghasilkan 7166 anak terlantar di tahun 2015 sekarang.

Hal itu dikatakan Bagian Bidang Pembinaan dan Penasihatan BP4 Kementrian Agama Kabupaten Sumedang, Rahmat Hidayat kepada Sumeks di ruang kerjanya, Jumat (23/10).
“Memang sangat sayang sekali dengan adanya kejadian tersebut, karena imbasnya begitu besar untuk Kabupaten Sumedang ini. Terutama bagi anak-anak yang ditelantarkan orang tuanya,“ katanya.

Menurut Rahmat, jika kejadian seperti itu selain kesalahan dari pribadi masyarakat itu sendiri, ia juga menilai karena ketidakpopuleran BP4 sendiri di masyarakat umum.
“Hal tersebut terjadi kebanyakan orang selalu salah dalam meminta pendapat tentang rumah tangganya sendiri. Kadang mereka lebih senang curhat kepada teman atau keluarga sendiri yang sebenarnya mungkin mereka bukanlah orang yang kompeten dibidangnya,” bebernya.

Harusnya, kata dia, setiap permasalahan dapat dirundingkan kepada BP4 yang memang menangani permasalahan seperti itu. Namun, pihaknya mengakui jika BP4 belum populer di mata masyarakat luas.

Kabupaten Sumedang, tambahnya, memiliki prestasi yang luar biasa buruknya dalam tingkat perceraian di Jawa Barat. Walaupun secara angka memang Kota Indramayu menjadi nomor satu. Namun jika dilihat dari jumlah penduduk yang lebih besar, Kabupaten Sumedang tetap unggul dalam hal perceraian.

Sementara itu, perceraian yang begitu tinggi di Kabupaten Sumedang ini tidak jauh juga dari perkembangan jaman yang secara otomatis mendorong masyarakat untuk mengikuti gaya hidup yang lebih tinggi lagi.

“Selain dari diri pribadi, gaya hidup juga menunjang ke tingkat perceraian. Misalnya seperti yang kita lihat sekarang bagaimana alat komunikasi yang sudah booming di Sumedang sehingga dengan mudah dapat memunculkan adanya pihak ketiga, alat transportasi yang semakin canggih dan modern serta yang lebih parah biasanya yang memicu perceraian ini adalah adanya kekerasan dalam rumah tangga “ kata Rahmat.

Walaupun minimnya masyarakat umum yang berkonsultasi kepada BP4, namun untuk kalangan PNS masih bisa dikatakan tidak sepi akan pengunjung tiap tahunnya. Seperti di tahun 2015 ini sudah sekitar 100 pasangan PNS yang sudah ditangani oleh BP4 Kabupaten Sumedang. Terkait PNS harus ditangani oleh BP4 itu karena sudah ada aturan pemerintah dalam UU nomor 1 tahun 1974 dan PP Nomor 10 tahun 1983 tentang izin perkawinan dan perceraian PNS yang harus ada rekomendasi dari BP4. (bay)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.