Siap Hapus 3J dan Tanamkan Prilaku 3S

Siap Hapus 3J dan Tanamkan Prilaku 3S

PERBAIKI: Puskesmas Surian tengan ditanamkan Program Puskesmas Welas Asih dan terus memperbaiki layanan serta perbaikan bangunan.

PEWARTA: ASEP HERDIANA/SUMEKS

Hapus Stigma, Dinkes Fokus Layanan Puskesmas Berbasis Welas Asih

Puskesmas Welas Asih menjadi fokus utama Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang. Bahkan saat ini, sedang melakukan kegiatan Tata Graha diantaranya di Puskesmas Tanjungsari, Surian, Cisarua, Rancakalong, Kota Kaler, Sukamantri, Sawahdadap, Cisempur dan Hariang. Berikut penuturannya.

ASEP HERDIANA, Kota

BANGUNAN kecil dengan papan nama putih bertuliskan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di depannya. Dihuni oleh seorang mantri kesehatan dengan peralatan kesehatan yang sederhana dan persediaan obat-obatan seadanya.

Itulah puskesmas di masa lalu. Sebuah pusat pelayanan kesehatan yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat, tetapi berada dalam kondisi yang memprihatinkan.

Saat itu, kebanyakan puskesmas, terutama yang berlokasi di perkampungan memang hanya berupa sebuah bangunan kecil yang terdiri atas dua ruang utama, satu ruang untuk konsultasi dan satu ruang untuk periksa. Petugasnya pun hanya satu orang mantri kesehatan yang rela mengabdikan diri di puskesmas tersebut dan memberikan pelayanan 24 jam kepada masyarakat setempat.

Ketika menemukan kejadian sakit yang agak berat, maka si sakit segera dirujuk ke rumah sakit terdekat yang menyediakan pelayanan lebih lengkap. Hal ini berdampak pada terlambatnya pemberian perawatan kepada si sakit yang justru akan memperparah kondisi sakitnya dan bahkan mengakibatkan kematian.

Sebagai implementasi dari Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, saat ini Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang menjalankan program Puskesmas Welas Asih. Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan puskesmas kepada masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Retno Ernawati didampingi Sekretaris Dinas Kesehatan dr Anna Hernawati Sabana menyebutkan, peran puskesmas sekarang ini cukup strategis sebagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam pelayanan BPJS Kesehatan. Dan puskesmas pun harus mampu bersaing dengan klinik kesehatan swasta yang kualitas pelayanan medis serta tempatnya relatif lebih baik dan representatif.

Pihaknya menyadari dan tak dapat dipungkiri keberadaan puskesmas di mata masyarakat saat ini masih kurang baik. Seperti tempatnya kotor dan kumuh, pelayanan medisnya seadanya, tenaga medisnya kurang profesional, alat medisnya tidak lengkap, obatnya murah, dan para petugasnya kurang ramah.

“Terkesan, puskesmas itu khusus tempat berobat warga kurang mampu saja. Padahal ketika puskesmas menjadi FKTP bagi peserta BPJS Kesehatan, semua masyarakat dari mulai warga kurang mampu hingga masyarakat yang mampu, wajib mengakses pengobatan dan perawatan di puskesmas,” katanya.

Karena itu, lanjut Retno, dalam program Puskesmas Welas Asih ini, Dinkes mulai membenahi puskesmas supaya pelayanan kesehatannya berkualitas. Mulai dari penanganan medis, membenahi bangunannya, sampai pelayanan petugas kepada para pasiennya.

“Program Puskesmas Welas Asih ini, secara bertahap sudah mulai dilakukan sejak Januari 2017 lalu,” imbuhnya.

Hal senada diungkapkan Kasubbag Program Dinkes Ekki Riswandiyah menambahkan, saat ini dinkes tengah mensosialisasikan Puskesmas Welas Asih ke seluruh puskesmas yang ada di Sumedang, serta terus melakukan akreditasi terhadap puskesmas.

“Sosialisasi ini sudah dilaksanakan kepada semua puskesmas. Dari puskesmas biasa-biasa saja jadi berkembang dari segi tata graha, tidak monoton bercat putih lagi. Tapi di puskesmas sekarang ada tempat bermain anak, trauma healing dan juga pelayanan terhadap pasen disabilitas,” terang Ekki.

Menururtnya, kenapa harus ada pelayanan trauma healing, karena di masyarakat banyak kasus yang harus ditanggulangi oleh psikolog. Meski pun tim psikolog baru ada di tingkat kabupaten. Adapun puskesmas yang sudah terakreditasi tingkat dasar baru ada sembilan dan tingkat madya baru empat (Kotakaler, Situraja, Sukamantri dan Tanjungsari)

Program Puskesmas Welas Asih, kata Ekki, dimulai dengan melakukan rehab bangunan atau tata graha di seluruh puskesmas. Hampir semua puskesmas sekarang ini sedang melakukan kegiatan Tata Graha, diantaranya Puskesmas Tanjungsari, Surian, Cisarua, Rancakalong, Kota Kaler, Sukamantri, Sawahdadap, Cisempur dan Hariang.

“Selain memugar tampak depan dan menata ruangan, juga menyediakan tempat parkir kendaraan. Bahkan di setiap pojok bangunan dibuat taman dan di dalam ruangan disediakan tempat bermain anak,” ujarnya.

“Nantinya, dokter bisa memeriksa kesehatan anak-anak balita di tempat bermain anak sehingga anak-anak tidak merasa takut. Kami juga akan menyediakan fasilitas kursi roda bagi pasien yang cacat, termasuk menyediakan tempat untuk pasien manula,” imbuh Ekki.

Tak hanya bangunan, dinkes pun kini sedang mengubah perilaku para petugas puskesmasnya. “Kita akan membuang perilaku 3J (jamedud, judes, jutek) dengan menanamkan perilaku 3S (senyum, sapa, salam) kepada semua pasien. Melayani para pasien harus dengan hati,” pungkas Ekki. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.