Siswa SLB Diajari Bercocok Tanam

Siswa SLB Diajari Bercocok Tanam

SIAPKAN LAHAN: Sejumlah siswa dan gurunya tengah merapihkan lahan kosong milik kepsek yang akan dijadikan tempat belajar bercocok tanam.(HERI PURNAMA/SUMEKS)

PEWARTA: HERI PURNAMA/SUMEKS

CISITU – Siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Bhina Bhakti Mandiri (BBM) dituntut untuk dapat bercocok tanam. Untuk itu, pihak sekolah berupaya terus menggali bakat-bakat yang tertanam pada setiap siswa.

Di samping ada beberapa yang ahli dalam membuat kerajinan, siswa juga ada yang mulai timbul memiliki bakat bercocok tanam. Dengan begitu, pihak sekolah menyediakan tanah kosong yang akan digarap para siswa yang memiliki bakat tersebut.

Kepala SLB Bina Bhakti Mandiri, Dr. Isaris Arwianti, S.pd, M.Mpd menegaskan, pendidikan untuk siswa berkebutuhan khusus, memang harus lebih fokus terhadap potensi yang mereka punya. Setelah terlihat bakatnya, tugas pihak sekolah mengembangkan bakatnya itu, agar siswa punya keahlian khusus saat sudah tidak menjadi siswa SLB lagi.

“Sekolah SLB itu harus punya berbagai sarana, sebab pendidikan untuk disabilitas tidak cukup diberikan pendidikan yang formal saja, tapi kita harus lebih fokus kepada pengembangan potensinya,” katanya  saat ditemui di sekitar lingkungan sekolah, Rabu (13/3).

Dikatakan Isaris, seperti yang dilakukan saat ini, pihaknya mencoba untuk menyediakan lahan untuk dijadikan tempat belajar bercocok tanam. Meski lahan tersebut tidak luas, pihaknya akan berupaya agar para siswa bisa memahami cara bercocok tanam yang baik dan benar.

Sehingga, meski lahan sempit bisa menghasilkan keuntungan yang maksimal. “Kita akan coba menama palawija, seperti kencur, kunyit dan lainnya,” tuturnya.

Dia menilai, di samping para siswa punya bekal ilmu untuk menanam palawija, mereka juga bisa belajar untuk memasarkannya. “Program ini bukan hanya untuk mendidik para siswa bisa bercocok tanam, tapi sebagai salahsatu upaya mengajarkan mereka bisnis,” tuturnya.

Pada dasarnya, siswa berkebutuhan khusus itu mampu berbisnis dalam segala hal. Baik itu dalam bidang kerajinan tangan, bertani dan usaha lainnya. “Orang-orang seperti mereka itu harus diarahkan lebih ke usaha sendiri, dengan begitu mereka bisa membiayai hidupnya,” tukasnya. (eri)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.