Sulap Daun Cengkeh Jadi Lembaran Rupiah

Peliput/Editor: heri purnama/usep adhiwihanda

Sulap Daun Cengkeh Jadi Lembaran Rupiah

SUMBER UANG: Seharudin menunjukan lokasi proses penyulingan daun dan batang cengkeh miliknya di Desa Sukajadi, Kecamatan Wado, Minggu (18/10). (Heri purnama/sumeks)

Berawal dari melihat penyuling limbah cengkeh di Kabupaten Ciamis, Eman, terinspirasi mendirikan usaha serupa di desanya sendiri, yaitu Desa Sukajadi, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang. Beruntung, di desanya cukup banyak stok limbah cengkeh yang tidak dimanfaatkan warga. Bagaimana kisahnya, berikut liputannya.

HERI PURNAMA, Wado

Dengan modal Rp 8 juta, pada tahun 1999, Eman mencoba peruntungan dengan berbisnis limbah daun cengkeh. Pada saat itu, usaha tersebut memang tidak umum. Sebab, daun cengkeh hanya dianggap sebagai limbah, baik oleh pemilik pohon maupun warga lainnya.

Namun, dengan keuletannnya, Eman berhasil menjalankan bisnis penyulingan limbah daun cengkeh. Ia pun bisa menghidupi keluarganya dari usaha tersebut. Bahkan, sejumlah tetangga, ikut kecipratan usaha Eman yang kini diteruskan oleh sang anak, Seharudin (33).

Pengakuan Seharudin, awalnya ia pun tidak menyangka bakal menghasilkan pundi-pundi uang dari pengembangan usaha sang ayah. Sebab, saat usaha masih dijalankan sang ayah, hampir seluruh warga maupun pemilik pohon cengkeh, belum ngeh dengan manfaat limbah daun dengkeh ini.

Ia juga mengaku, awalnya tidak tertarik dengan pengolahan limbah daun cengkeh. Sebab itu, ia memilih merantau ke Jakarta. Di ibu kota, ia bekerja di sebuah mall dengan gaji sebesar 1 juta, angka relatif kecil untuk ukuran bekerja di Jakarta. Sebab itu, Seharudin hanya bertahan beberapa bulan saja, sebelu memutuskan pulang ke kampung halaman.

“Dulu, saya juga kuli di sebuah mal dengan gaji perbulan hanya 1 juta. Karena waktu itu saya sakit-sakitan, saya memutuskan untuk pulang dan meneruskan usaha orang tua, menjadi penyuling daun dan batang cengkeh,” ujar Seharudin saat ditemui Sumeks, baru-baru ini.
Ia menceritakan, setelah ia ikut mengelola, usaha penyulingan limbah cengkeh semakin maju. Bahkan, pada tahun 2005, dia bisa membuat tempat baru lagi untuk pembuatan minyak cengkeh. Modal yang dikeluarkan untuk membuat penyulingan baru, Seharudin harus merogoh koceknya senilai Rp 60 juta.

Namun, modal yang dia keluarkan tidak sia-sia. Berkat keuletan dan kerajinannya, Seharudin bisa mengembalikan modal dengan hanya dalam waktu 6 minggu. Sebeb, omset yang dia dapatkan per minggunya bisa mencapai Rp 10 juta. “Tahun 2005, usaha ini mulai saya kelola sendiri, meneruskan orang tua. Alhamdulilah, bisa membuat tempat untuk menyuling lagi,” kata dia.

Namun kata dia, saat ini ada perbedaan dari waktu yang lalu. Itu, setelah banyak warga yang menyadari bahwa limbah dari tanaman cengkeh, bisa diolah menjadi minyak. Maka, sejak tahun 2003, usaha penyulingnya harus mengontrak pohon cengkeh yang ada di kebun warga. Selain itu, saat ini ia harus merogoh kocek untuk biaya pemungutan daun cengkeh. “Kalau dulu, orang tua saya tidak harus membeli bahan bakunya, tapi sekarang kita tentu harus membeli,” ucapnya.

Saat ini, olahan limbah cengkeh yang dijadikan minyak oleh Seharudin, langsung disalurkan ke Cianjur. “Per dua minggu bisa mencapai tiga kuintal minyak, yang terjual,” pungkasnya. (*)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js