Tabungan Siswa SDN Sampora Tak Dibayarkan

SUMEDANG – Dunia pendidikan kembali tercoreng. Sejumlah uang tabungan siswa di SDN Sampora Desa Ciawitali Kecamatan Buahdua tidak dibayarkan oleh pihak sekolah.

Dugaan sementara, hal tersebut terjadi akibat ditilep (diambil, red) oleh seorang oknum guru.

Menurut keterangan para orang tua siswa, uang tabungan siswa jumlah totalnya Rp9.961.000, yang merupakan tabungan dari 22 siswa kelas enam. Namun, tabungan tersebut hingga kini belum dibagikan.

“Padahal, ke 22 siswa itu sudah keluar dan sudah menjadi siswa SMPN atau MTs Negeri,” ujar salah satu orang tua siswa Tarsih didampingi yang lainnya saat berada di Kantor Desa Ciawitali, kemarin.

Para orang tua siswa yang merasa dirugikan pun langsung menindaklanjuti dengan mengadukan sekaligus melaporkan permasalahan ini ke pihak Polsek Buahdua dengan didampingi Kepala Dusun Sampora.

“Ya kami sudah membuat laporan Polisi. Dan kami sudah menyampaikan permasalahannya langsung ke bagian Reskrim atau Kanit Reskrim. Kita tunggu saja bagaimana tindak lanjutnya,” paparnya.

Tarsih juga menyebutkan, kejadian ini terjadi di tahun 2018 – 2019. Pada saat itu, pihak sekolah dan Kepala Sekolah berjanji uang tabungan akan segera dibayarkan secepatnya.

Namun, hingga saat ini janji tersebut tidak juga ditepati. Padahal, oknum guru yang diduga memakan uang tabungan tersebut sejak awal sudah membuat pernyataan dan perjanjian secara tertulis akan siap membayar.

“Kami merasa dirugikan. Uang tabungan anak kami yang disimpan dari kelas satu hingga kelas enam saat dibutuhkan untuk biaya tambahan melanjutkan ke SMPN di makan oknum guru,” keluhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Ciawitali Faturohim sangat merasa kecewa dengan adanya kasus tersebut. Mewakili warga, pihaknya merasa dirugikan oleh pihak sekolah SDN Sampora.

“Mohon kepada instansi terkait, baik Dinas Pendidikan ataupun Kepolisian, masalah ini segera ditindak lanjuti secara hukum,” ucapnya kepada Sumeks, Kamis (12/12).

Dikatakan, sebenarnya kejadian ini bukan yang pertama kali. Pada tahun 2015 lalu tabungan siswa di SDN Sampora sempat dibekukan. Sebab, siswa yang keluar tahun 2015 lalu juga tidak dibayarkan uang tabungannya.

“Saat ini kejadian terulang pada siswa yang saat itu masih duduk di Kelas 3 SD atau lulus tahun 2019,” jelasnya.

Faturohim juga mengatakan saat di Kantor Desa Ciawitali, orang tua siswa juga mengadukan adanya pemotongan dana bantuan dari KIP. Pemotongan sendiri bervariasi besarannya antara Rp50 ribu hingga Rp200 ribu.

“Pihak sekolah berdalih pemotongan tersebut dilakukan karena akan membuat pagar sekolah dan pakaian batik untuk siswa. Namun, sampai saat ini tidak ada realisasinya,” tuturnya. (atp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.