oleh

Tak Dilirik Jabar, Dirangkul DKI Jakarta

Perjalanan Rifdah Menuju Kancah Musabaqoh HIfzhil Quran Internasional

KOTA – Keberhasilan Rifdah Farnidah, dapat dibilang istimewa. Rifdah, merupakan satu-satunya peraih juara yang bukan berasal dari Timur Tengah pada Arena Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ) Internasional yang digelar Kerajaan Yordania pada 19-24 Maret 2018 lalu.

Atas keberhasilan ini, Rifdah mengaku mendapat banyak apresiasi dari berbagai kalangan. Dia pun mengucap banyak syukur atas support yang datang untuknya.

Rifdah bercerita tentang masa kecil dan seputar prestasinya. Dia terlahir di Desa Sukamantri, sebuah desa kecil di Kecamatan Tanjungkerta Kabupaten Sumedang, tepatnya pada 3 Juni 1995 silam.

Sedari kecil, Rifdah yang akrab disapa Dede oleh orang tua dan tetangganya, memang tekun mempelajari ilmu agama, khususnya belajar Alquran.

Terlahir di keluarga santri, membuat Rifdah tidak pernah jauh dari suasana pendidikan Islam. Kecintaanya terhadap Alquran terus dipupuknya di pesantren milik kakeknya, yakni Pesantren Al-Hikamussalafiyyah Sumedang yang diasuh KH M Aliyuddin. Maka tidak heran, ketika kelas 1 SMA, Rifdah sudah mampu mengkhatamkan Alquran 30 Juz dengan cara dihafal.

Usai menamatkan pendidikan Madrasah Aliyah, Rifdah remaja melanjutkan pendidikan di Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta. Di lembaga pendidikan ini, Rifdah terus mengasah ilmu agama. Di tempat ini pula, dirinya bertemu dengan beberapa pakar ilmu Alquran yang bepengalaman seputar MHQ.

Sadar memiliki kemampuan seputar Alquran, Rifdah pun mencoba mengikuti berbagai ajang Musabaqah Tilawatil Quran.
Usahanya pun, tidak sia-sia. Tercatat, anak pertama dari empat bersaudara ini pun mengoleksi berbagai medali. Di antaranya, juara 1 MHQ 5 Juz pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) JQH Tingkat Nasional Tahun 2010, juara 1 MHQ 10 Juz pada MTQ Nasional Nusa Tenggara Barat Tahun 2016, juara 1 MHQ 30 Juz pada Seleksi Tilawatil Quran Tarakan Kalimantan Utara Tahun 2017 dan teranyar juara 2 MHQ 30 Juz pada MTQ Internasional di Yordania.

Perjuangan Rifdah, tidak lepas dari rintangan. Namun, dia terus berusaha menaklukkannya. “Saya dulu saat pertama kali diminta untuk mengikuti cabang 30 juz, hafalan saya masih belum lancar. Tapi saya tetap terus berusaha untuk berlatih dengan menargetkan muraja’ah dengan target satu hari harus dapat 5 sampai 10 Juz dengan bacaan tartil. Alhamdulillah berkat usaha dan do’a dari orang tua, hafalan itu bisa lancar dengan sendirinya,” ujar Rifdah.

Bagi Rifdah, MTQ adalah sebuah ajang syi’ar Alquran yang menjadi wadah bagi para generasi Alquran untuk lebih mematangkan dan mencintainya.

Rifdah pun, memiliki tekad menyalurkan kemampuannya kepada generasi muda lain agar semakin banyak penghafal Alquran
“Pesan saya ke generasi muda, jangan pernah lelah dalam membaca, menghafal dan mengkaji Alquran. Sebab, sesungguhnya ia akan memberikan syafaat kepadamu di akhirat kelak,” harapnya.

Kecintaannya kepada orangtua, ternyata menjadi alasan utama Rifdah tak pernah putus untuk belajar. Rifdah memiliki cita-cita membahagiakan orangtua melalui sebuah prestasi di bidang Alquran.

Ada pesan orangtua yang selalu diingatnya. Yaitu harus selalu memiliki niat ikhlas Lillahi ta’ala dan tetap rendah hati dalam keadaan apapun. Pesan itupun selalu dipegangnya hingga kini.

Saat ini, dara pasangan dari Muhammad Kadris dan Ai Faridah sedang menyelesaikan kuliah S-2 di Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta.

Di kampus, Rifdah aktif di berbagai kegiatan yang berhubungan dengan Alquran. Hal tersebut senada dengan moto hidupnya yaitu ‘Berjuang Bersama Alquran dan berkhidmat terhadap Alquran’.

Sementara itu, paman Rifdah sekaligus pembimbingnya KH Sa’dulloh SQ mengatakan, dalam membaca Alquran, Rifdah kecil awalnya dibimbing oleh orantuanya. Ketika memasuki usia menghafal, Rifdah dibimbing dirinya bersama Usth Umi Kulsum SPdI, Usth Hj Yayah Zakiyah SQ dan Usth Ade Sri Yulianti SPdI.

“Alquran adalah kalamullah yang suci dan agung. Karena itu, ketika berinteraksi baik membaca maupun menghafalnya harus suci lahir batin. Makanan yang dimakan oleh anak harus halal dan baik. Itulah yang ditanamkan pada Rifdah kecil,” jelasnya.

Sa’dulloh menuturkan, proses menghafal Quran pada Rifdah, dilakukan melalui proses bimbingan seorang guru tahfid. Kegiatan bimbingan yang dilakukan, pertama Tahsin bin nadzar. Yaitu, membaca dengan cermat ayat-ayat Quran yang akan dihafal dengan melihat mushaf secara berulang. Membaca dengan meperhatikan kaidah tajwid baik makharijul huruf, hukum mad serta wakaf ibtida.

Sa’dulloh melanjutkan, kedua Tahfid. Yaitu, menghafalkan ayat-ayat yang telah ditahsin tersebut secara berulang sampai hafal betul.

Ketiga, lanjut Sa’dulloh, Talaqqi. Yaitu, menyetorkan hafalan kepada guru tahfid yang selain seorang hafid juga punya sanad guru Quran juga telah mantap agama dan marifatnya serta dikenal mampu menjaga dirinya.

Sa’dulloh pun menuturkan, metode yang dikenal dalam menghafal Alquran ada tiga. Di antaranya, metode seluruhnya. Yaitu membaca dan menghafal satu halaman dari baris pertama, sampai baris terakhir secara berulang sampai hafal betul.

Kedua, kata Sa’dulloh, metode sebagian. Yaitu, menghafal ayat demi ayat atau kalimat demi kalimat yang dirangkaikan sampai satu halaman.

“Dan ketiga, metode campuran. Yaitu kombinasi antara metode seluruhnya dan metode bagian. Mula-mula dengan membaca satu halaman secara keseluruhan berulang, lalu di bagian tertentu dihafal tersendiri. Kemudian, diulang lagi secara keseluruhan,” paparnya.

Sa’dulloh memberikan kiat-kiat belajar dan menghafal Alquran. Yaitu, niat yang iklash, mempunyai kemauan kuat serta disiplin dan istiqamah menambah hafalan.

“Lainnya, belajar dan talaqqi (berhadapan langsung) dengan guru yang ahli (hafal 30 Juz) serta punya silsilah sanad guru sampai kepada Nabi Muhammad SAW,” paparnya.

Sa’dulloh menjelaskan, selama ini Rifdah belum pernah mewakili Jawa Barat karena belum pernah juara di tingkat Jabar, baik di 5, 10, 20 dan 30 Juz.

Menurutnya, pernah mewakili Kabupaten Sumedang di MTQ Jabar tapi tidak pernah menjadi juara. “Saya sendiri tidak tahu penyebabnya,” ujarnya.

Dikatakan Sa’dulloh, Rifdah mewakili Jakarta karena dia kuliah di IIQ Jakarta. “Jadi ketika di Jabar tidak dipakai, maka DKI langsung ambil dan berhasil menjuarai tiga kali MHQ tingkat nasional,” tuturnya. (atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed