Terancam Longsor, Siswa Diungsikan ke Kodim, Kekurangan Seragam

Terancam Longsor, Siswa Diungsikan ke Kodim, Kekurangan Seragam

BELAJAR: Sejumlah siswa korban tanah longsor, belajar di Makodim 0610 Sumedang, Senin (26/9). (ASEP NURDIN/SUMEKS)

PEWARTA: ASEP NURDIN

KOTA – Akibat bangunan sekolah terancam longsor, sebanyak 234 siswa SDN Karangmulya harus belajar di tempat pengungsian di Markas Komando Distrik Militer (Makodim) 0610 Sumedang, Senin (26/9).

Kepala SDN Karangmulya, Supiah S.Pd mengatakan, proses kegiatan belajar mengajar dilakukan sebagai mana mestinya, meskipun dengan menggunakan peralatan seadanya.

“Belajar pun di alam terbuka tanpa menggunakan alat bantu seperti white board dan sarana pendukung lainnya,” katanya kepada Sumeks, Senin (26/9).

Supiah menambahkan, untuk kelas I, II, III , V dan VI, memanfaatkan teras bangunan milik Kodim dan sebagian lainnya belajar di dalam tenda dengan hanya beralaskan tikar seadanya. “Sedangkan untuk kelas IV, berada di bawah pohon rindang sekitar lapang,” katanya.

  Dikatakannya, meskipun proses KBM di alam terbuka dengan peralatan seadanya, namun tidak menyurutkan semangat para tenaga pengajarnya dalam memberikan materi ajar kepada peserta didiknya.

“Karena di alam terbuka dan antara kelas satu dengan kelas lainnya tidak ada sekat, suasana belajar pun terasa gaduh. Otomatis dalam menyampaikan materi pun harus mengeluarkan tenaga ekstra. Tapi bagi kami bukan masalah, dimana pun tempat kami mengajar, itu bukan masalah,” tandasnya.

Dikatakan Supiah, dari 234 siswanya, hanya 209 siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar di tempat pengungsian Makodim.  “Selebihnya mereka ikut orang tuannya mengungsi ke tempat sanak saudaranya yang berada di luar kecamatan,” katanya.

Sementara itu, lanjut Supiah, pada awalnya siswa mengikuti proses KBM di SDN Palasari (sekolah SD yang berada di sekitar Gor Tadjimalela). “Namun di hari ke empat ini, kita pusatkan semuanya di Makodim,” terangnya.

Sedangkan untuk berangkat ke sekolah, lanjut Supiah, mereka setiap hari diangkut dari pengungsian Gor Tadjimalela dengan menggunakan Mobil Dinas milik Satpol PP Kabupaten Sumedang. “Karena orang tua mereka berada di pengungsian Gor Tadjimalela,” tandasnya.

Dari pantauan Sumeks di lapangan, sejumlah siswa tampak antusias mengikuti proses pembelajaran dari para gurunya, namun diantara mereka ada yang tidak mengenakan pakaian seragam sekolah.

“Karena kata emak, saat mau ngungsi, lupa membawa  baju seragam, atau mungkin hilang,” ujar Andri Maulana, kelas IV sambil tetap fokus mengerjakan tugas yang diberikan sang guru.

Dikatakan Andi, ada yang berbeda jika dibandingkan dengan belajar normal pada saat  di kelas . “Disini bisa sarapan bareng, shalat berjamaah suasananya pun berbeda karena berada di alam terbuka, belajar di sini terasa lagi sedang piknik,” katanya sambil tersenyum.

Namun, walaupun kondisi pengungsian di Makodim terhitung lebih baik dan terstruktur, namun masih ada kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Salah satu yang menjadi skala prioritas saat ini adalah seragam sekolah anak-anak. Dari sekitar 150 anak sekolah yang terdiri dari siswa SD hingga SMA tersebut, masih ada yang tidak menggunakan seragam sekolah.

“Pakaian seragam sekolah memang cukup mendesak. Dan itu rata-rata adalah perlengkapan sekolah SD. Masih banyak anak-anak SD disini yang belum memiliki seragam sekolah, pasca bencana kemarin. Selain peralatan sekolah, perlengkapan ibadah juga disini masih kurang,” kata Wakil Koordinator pengungsian Makodim 0610, Kapten Inf Mohaji, Kepada Sumeks, Senin (26/9).

Selain hal tersebut, Mohaji juga meminta agar setiap sumbangan yang diberikan agar diusahakn sudah dalam bentuk satu paket. Hal tersebut dikarenakan agar lebih memudahkan para relawan dalam menyalurkannya terhadap pengungsi.

“Kita juga memang butuh pakaian anak-anak dan pakaian dalam ibu-ibu. Dan itu sebaiknya sudah satu paket, atasan sama bawahannya. Kalau bisa jangan dengan kondisi terpecah,” ujarnya.

Sementara itu, kondisi yang berbeda sangat terasa dibandingkan dengan lokasi pengungsian yang ada di Gor Tadjimalela. Dengan total pengungsi 361 dan ditambah 40 jiwa, para pengungsi tampak bisa lebih nyaman.

Kasdim sekaligus Komandan Posko, di makodim, Mayor Inf Budi Cahyanto, menjelaskan jika suasana nyaman tersebut dikarenakan pihak Kodim beserta relawan Menerapkan organisasi management camp.

“Disini kita ada pembagian posko, kemudian diposko itu strukturnya jelas dan terorganisir. Setiap malam, lurah (Koordinator Camp) dari masyarakat pengungsi diharuskan mengisi form setiap jam 00.00. Itu guna menyiapkan yang dibutuhkan untuk besok. Setelah jelas apa saja yang dibutuhkan, itu langsung dibagikan dan dibatas waktu selama 4 jam harus tersalurkan,” kata Mayor Inf Budi.

Demi menghindari adanya penumpukan logistik, Koordinator Posko menerapkan metode pengklasifikasian berdasarkan Expire dan Prioritas. Hal tersebut yang belum diterapkan di lokasi pengungsian Gor Tadjimalela.

“Untuk logistik seluruhnya diberi pengklasifikasian berdasarkan ekspire dan prioritas. Sehingga antara barang masuk dan keluar itu seimbang, sehingga tidak ada penumpukan. Kalau sudah rapih seperti itu, maka itu bisa menghindari adanya  penimbunan,” sebutnya.

Disisi lain, pihak Kodim juga turut menyesalkan dengan lambatnya tanggapan pemerintah dalam mengatasi permasalahan pengungsi. Seperti halnya dalam menanggapi bantuan ikan Makarel yang diberikan oleh Mentri Sosial, Khofipah Indar Parawansa.

“Setiap malam kan kita selalu evaluasi. Yang paling dibahas itu adalah ikan makarel dengan jumlah sampai berton-ton dari kementrian sosial. Itu harusnya ada freezer besar, seperti bencana di garut. Itu pemerintahnya langsung beli freezer. Disini tanggapan bupati sangat lambat, dan malah tanyakan apakah perlu adanya Freezer. Padahal ikan makrel itu mengandung gizi tinggi,” tuturnya. (mg1/bay)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.