Selasa, 4 Agustus 2020

Sumedang Ekspres

Bacaan Utama Warga Sumedang

Tiga Fokus Kemendikbud Ciptakan Siswa Unggul ,Penyaluran KIP, Pendidikan Vokasi, dan Pendidikan Karakter

Dewasa ini kualitas pendidikan di Indonesia sering dicap masih jauh dari bagus. Berbagai penelitian dan fakar menyebut Indonesia masih ketinggalan dibanding dengan negara-negara maju lainnya didalam kualitas pendidikan. Makanya, Kemendikbud melakukan tiga terobosan nyata untuk memperbaiki kualitas pendidikan.

——————–
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan tiga fokus yang menjadi perhatian untuk membantu siswa unggul di zamannya. Yakni percepatan penyaluran Kartu Indonesia Pintar (KIP), pengembangan pendidikan vokasi, dan realisasi pendidikan karakter.

“Pada fokus percepatan KIP ini perlu dilakukan dengan segera sebagai upaya untuk menghindari terjadinya generasi putus sekolah,” katanya dalam pernyataan resminya, belum lama ini.

Percepatan penyaluran KIP ini, sebagai wujud membantu pendidikan bagi anak tidak mampu usia 6-21 tahun. Termasuk di dalamnya untuk menjaring anak-anak yang sudah tidak sekolah bisa kembali ke sekolah.

“Ini menjadi kewajiban pemerintah menyediakan akses pendidikan bagi anak-anak yang putus sekolah. Dengan begitu kita dapat membantu mereka menjadi anak yang unggul,” papar Muhadjir.

Selain penyediaan akses, pemerintah juga harus bisa melihat kebutuhan zaman melalui pendidikan. Untuk menjawab kebutuhan zaman khususnya menyiapkan sumber daya manusia (SDM) dalam memasuki dunia kerja, Kemendikbud akan lakukan pengembangan terhadap pendidikan vokasi.

“Kami akan tekankan pendidikan vokasi untuk menyiapkan tenaga kerja di usia produktif. Karena ketika Indonesia mencapai usia 100 tahun yakni di tahun 2045, anak Indonesia bisa menjadi generasi berdaya saing,” jelas mantan rektor Universita Muhammadiyah Malang (UMM) ini‎.

Dalam menyiapkan generasi muda unggul dan berdaya saing, Muhadjir menekannya perlunya pendidikan karakter. Penekanan pendidikan karakter akan dilakukan pada jenjang pendidikan dasar yakni Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

 Sebanyak 70 persen pendidikan karakter untuk jenjang SD, dan 60 persen jenjang SMP. “Implementasi pendidikan karakter harus mengedepankan potensi lokal,” tandasnya. (esy/jpnn)