oleh

Tiga Rumah di Desa Padanaan Rusak Akibat Proyek Bendung Rengrang

SUMEDANG – Tiga unit rumah di Kampung Sukamaju RT 5 RW 1 Desa Padanaan Kecamatan Paseh mengalami kerusakan berat. Dua rumah diantaranya, mengalami retak pada bagian dinding dan lantai. Sementara, satu rumah lainnya hanya mengalami kerusakan pada bagian lantai.

Kerusakan tersebut diduga terjadi akibat pekerjaan proyek pembangunan irigasi primer Bendung Rengrang yang menyebabkan terjadinya pergerakan tanah dan longsor ke sekitar pemukiman yang berada tepat dibawah lokasi proyek.

Pemilik rumah yang mengalami kerusakan berat, Rusnandi mengatakan kerusakan rumahnya yang sudah dibangun sekitar enam tahun lalu mulai terjadi sejak adanya pekerjaan proyek pembangunan irigasi primer Bendung Rengrang. Sekitar 2 hingga 3 tahun lalu. Padahal, sebelum ada proyek, dinding rumahnya tidak mengalami retak dan belah.

“Kerusakan awalnya hanya sebagian dinding yang mengalami retak saja, namun sekarang sudah hampir semua bagian tembok dinding mengalami retak dan belah,” ujar Rusnandi kepada Sumeks, Minggu (12/1).

Rusnandi juga mengatakan, kerusakan pada rumahnya diakibatkan karena adanya pendoseran tanah yang menjadi timbunan. Yang kemudian, timbunan tanah tersebut diratakan oleh alat berat.

Diduga akibat pemadatan tersebut, lanjut Rusnandi, beban tanahnya menimbulkan adanya pergerakan tanah dan longsor yang mendesak dan mendorong ke arah pemukiman warga.

“Beban timbunan tanah tersebut menimbulkan adanya pergerakan tanah dan longsor. Lalu, terdorong ke pemukiman warga yang berada tepat di bawah proyek dengan jarak sekitar 10 hingga 15 meter. Hingga, menyebabkan dinding dan lantai mengalami retak dan belah,” jelasnya.

Walaupun jaraknya berdekatan proyek, ketiga rumah tersebut diketahui tidak terbebaskan oleh proyek pembangunan irigasi primer Bendung Rengrang.

“Namun, saat ini ketiga rumah itu terkena dampak pembangunan irigasi primer Bendung Rengrang,” tandasnya.

Rusnandi juga menjelaskan, proyek pembangunan irigasi primer Bendung Rengrang juga menyebabkan jalan lingkungan mengalami kerusakan dan belah belah. Bahkan, lingkungan pemukiman juga dipenuhi lumpur dan tanah dari proyek saat musim hujan.

Baca Juga  Kualitas Pekerja Tembakau Perlu Ditingkatkan

“Padahal, sebelumnya jalan mulus tidak mengalami belah belah, lingkungan juga bersih tidak berlumpur,” tuturnya.

Selain ke pemukiman warga, lanjut Rustandi lagi, luapan lumpur dan tanah juga merusak tanah darat (kebun dengan tegakan pohon) dan sawah milik warga di Blok Saar seluas kurang lebih 5000 meter persegi yang merupakan titik rawan bencana. Bahkan, setahun lalu sawah milik warga itu dipenuhi lumpur dan hanya menyisakan pucuk daun sehingga tidak bisa panen.

“Apabila hal itu tidak diantisipasi sesegera mungkin dengan cara luapan lumpur dimasukkan ke selokan awal, maka puluhan hektar sawah di hilir titik rawan bencana akan terancam dipenuhi lumpur. Karena, aliran air dan lumpur saat hujan deras nanti mengarah kesana,” jelasnya.

Tak hanya itu, pembangunan irigasi tersier Bendung Rengrang yang menuju Desa Bugel Kecamatan Tomo di Dusun Warung Buah Desa Padanaan juga turut berdampak pada warga.

Berdasarkan informasi dari warga setempat setidaknya satu unit rumah dan dua warung makan di RT 02 RW 01 Dusun Warung Buah mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah dan longsor. Rumah dan kedua warung tersebut harus ambruk.

“Dampak lainnya, jalan nasional Cirebon Bandung mengalami longsor di Blok Warung Buah akibat adanya pengerakan untuk jaringan irigasi tersier yang berposisi di bawah jalan nasional,” kata warga sekitar.

Bahkan, proyek pembangunan irigasi tersier Bendung Rengrang juga berdampak pada sawah seluas kurang lebih 17 Hektar di Blok Ciaseum Desa Padanaan. Sawah sawah tersebut tidak bisa diolah karena saluran airnya terganggu dan tersumbat oleh tanah dari pembangunan irigasi tersier Bendung Rengrang.

“Padahal sawah sawah di Blok Ciaseum tersebut mampu ditanami tiga periode tanam dalam satu tahun. Kini, petani hanya melakukan penanaman dengan cara ‘ngahuma’ saja,” paparnya.

Baca Juga  Festival Tahu 2018 Sangat Meriah

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Kepala Dusun setempat mengaku warga dan pihak Pemerintah Desa Padanaan telah melaporkan kejadian dan kerugian yang dialami warganya ke bagian humas perusahaan yang melaksanakan pembangunan irigasi Bendung Rengrang, baik secara lisan maupun tulisan. Namun, sampai saat ini belum mendapatkan tanggapan dari pihak perusahaan.

“Laporan telah dilayangkan oleh warga sejak tujuh bulan lalu, namun hingga kini belum mendapatkan tanggapan. Kami sudah bosan melaporkan, kasihan warga kami. Kami laporan tersebut segera ditindaklanjuti,” tukasnya. (atp)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed