Tujuh Kepala Sekolah Bungkam

KOTA – Diduga malu karena merasa tertipu kontraktor bodong, tujuh kepala sekolah serempak tutup mulut. Saat dikonfirmasi Sumedang Ekspres, dalam sebuah pertemuan di Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, kemarin (12/7).

Padahal kedatangan mereka itu, untuk rapat kesiapan memasuki hari pertama sekolah, pada Senin mendatang. ”Tuh ka Pak Kabid we (ke Pak Kabid saja, Red),” ujar salah seorang ibu kepala sekolah yang baru keluar dari ruangan Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Sumedang, Jumat (12/7).

Bahkan Rahmat selaku Kepala SD Negeri Baginda 1 mengaku sedang sakit sehingga tidak sanggup untuk diwawancara. ”Maaf ya, saya lagi sakit,” kata Rahmat sambil bergegas pergi meninggalkan Kantor Dinas Pendidikan.

Sementara itu Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Eka Ganjar mengungkapkan, pihaknya akan menelusuri aktor intelektual di balik penipuan berkedok bantuan Pemerintah Pusat itu.

”Namun sampai saat ini, saya masih belum bisa memastikan, siapa orang ini?” kata Eka.

Tetapi lanjut Eka, ada satu kunci yang besar kemungkinan dapat membuka celah kasus tersebut. ”Namanya Dede yang mengaku dari PT Horison, yang pada bulqn Maret dipanggil ke sini (Kantor Disdik, Red.),” ujarnya.

Selain Dede, lanjut Eka, ada satu nama lagi yang bisa dijadikan saksi kunci untuk membongkar kasus tersebut. Berdasarkan informasi yang diterima Eka, dia seorang ASN yang bertugas menjadi pengawas olahraga. Waktu itu menyertai Dede, saat melakukan survey ke sekolah-sekolah.

”Kemudian saya menelepon ke Kantor UPTD Selatan, untuk menanyakan pengawas tersebut. Saya meminta yang bersangkutan untuk menghadap ke Kantor Disdik,” tuturnya.

”Saya mendengar N kukurilingan (bergerilya) ke sekolah-sekolah, untuk mendampingi Dede,” kata Eka lagi menirukan ucapannya saat menelepon Kepala UPTD Pendidikan Sumedang Selatan.

Saat itu, Eka mengaku kesal kepada N karena telah berani melakukan survey tanpa laporan dahulu ke dinas. ”Saya mengira, Dede memang benar-benar kontraktor rakanan pemerintah,” imbuhnya.

Saat N dikonfirmasi Eka, dia mengaku tidak tahu apa-apa.  Bahkan yang bersangkutan sepertinya agak tertutup. ”Jadi ada dua orang yang bisa kita jadikan pintu masuk, untuk menguak kasus ini. Dari PNS nya Pak Nanang serta dari pihak luarnya, Pak Dede konsultan PT Horison,” sebutnya.

Pihaknya ingin menyari tahu, komunikasi awal antara N dengan Dede itu bagaimana sehingga drama pembongkaran gedung sekolah itu bisa berjalan mulus.

Sedangkan saat itu, para kepala sekolah sudah dimintai uang sebesar Rp 1 Jutaan, sebagai biaya pembuatan plang proyek dan ongkos survey.

”Tadinya mungkin saja kontraktor itu akan meminta uang dalam jumlah yang cukup besar. Tetapi karena modusnya sudah keburu terendus sehingga mereka kontraktor itu kabur,” ujarnya.

Sementara terkait isu adanya uang pelicin dan bargening antara pihak sekolah dengan konsultan, Eka menepisnya. ”Itu tidak benar,” tegasnya. (nur)

Ikuti Kami di Sosial Media:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.