Unep Akan Tindak Kepala Sekolah Nakal

Peliput/Editor: ASEP NURDIN/SUMEKS

Unep Akan Tindak Kepala Sekolah Nakal

BERI KETERANGAN: Sekdis Pendidikan Kabupaten Sumedang Unep Hidayat saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.(ASEP NURDIN/SUMEKS )

KOTA – Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, akan menindak tegas kepala SMP yang memperjual belikan bangku. Hal itu dikatakan Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang Unep Hidayat saat ditemui Sumeks di ruang kerjanya, kemarin (11/7).

Menurutnya, di Sumedang tidak mungkin ada kepala sekolah yang memperjual belikan bangku seperti di daerah lain. Sebab, masih banyak ruang kelas yang tersedia di sejumlah sekolah negeri.

“Di lingkungan kota saja, SPMN 6, 7, 8, 9 dan SMPN 10 masih kosong. Ruangan masih banyak,” katanya.

Terkait masalah sistem zonasi, kata Unep, di Kabupaten Sumedang belum bisa dilaksanakan secara utuh. Karena dengan berbagai macam pertimbangan, di antaranya wajib belajar sembilan tahun.

“Hanya yang menjadi persoalan di Sumedang, ada beberapa sekolah yang banyak diburu masyarakat dengan alasan sebagai sekolah favorit. Misalnya di Jatinangor, hanya SMPN 1 dan 2,” ujarnya.

Untuk daerah Tanjungsari, hanya SMPN Tanjungsari 1 dan 2, di daerah Cimanggung hanya SMPN 1, di wilayah kota hanya SMPN 1, 3 dan SMPN 4, daerah Cimalaka SMPN 1 dan di Darmaraja SMPN 1.

“Hanya sekolah itu saja yang banyak diminati masyarakat, sehingga melebihi kapasitas ruangan,” tuturnya.
Sedangkan bagi sekolah lain, pihaknya memberi kesempata seluas-luasnya kepada pera kepala sekolah untuk mencari calon siswa sebanyak-banyaknya.

“Bahkan saya intruksikan hingga tanggal 24 Agustus, untuk menyisir siapa saja yang belum masuk sekolah. Karena kita diwajibkan untuk sekolah sembilan tahun,” tegasnya.

Disebutkan Unep, tidak ada alasan lagi bagi anak putus sekolah karena masalah biaya. “Karena urusan biaya sudah dialokasikan pemerintah yang penyalurannya melalui Program Indonesia Pintar (PIP),” katanya.

Unep menambahkan, setiap sekolah khususnya sekolah favorit, diberi keleluasaan untuk menerima siswa baru melalui jalur khusus. Misalnya sebuah sekolah memiliki kuota PPDB sebanyak 200 sisiwa, berdasarkan kesepakatan di sekolah, 20 persennya diperuntukan bagi siswa miskin, zonasi bina lingkungan dan prestasi.

“Jadi jangan salah sangka jika ada seorang anak yang NEM-nya kecil lantas bisa bersekolah di SMP favorit, mungkin itu karena prestasi atau alasan lainnya,” tukasnya. (nur)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.