oleh

Waduh, Harga Cengkeh Merosot

WADO – Tak hanya petani singkong di Desa Sukajadi saja, yang kini mengeluhkan merosotnya penjualan tanamannya. Kini, petani Cengkeh di Desa Sukajadi, Kecamatan Wado, ikut mengeluh dengan merosotnya harga jual cengkeh.

Sudah sekitar dua bulan ini, harga cengkeh terus merosot. Sampai saat ini, titik terendah harganya berada di Rp 85 ribu per kilogram. Padahal biasanya, harga cengkeh mencapai Rp 100 ribu, dan paling rendah sekitar Rp 90 ribu per kilogramnya.

Salah satu petani cengkeh, Agus, merasa dirugikan dengan merosotnya harga cengkeh. Meski masih bisa merauk untung, namun penghasilan mereka saat ini jadi tergerus.

“Ya,kalau keuntungan tentunya masih ada, tapi sangat minim,” kata Agus kepada Sumeks, Kamis (13/10).

Ironisnya meski harga murah, para petani tetap memaksakan untuk menjual hasil taninya itu. Karena diakui mereka (petani), membutuhkan biaya untuk memberi upah buruh saat panen cengkeh.

“Ya, mau tidak mau kami tetap menjualnya, karena memang untuk panennya juga memerlukan biaya,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sukajadi, Dede Suhendar (kang Ds) menilai, harga di titik Rp 85 ribu memang sudah jadi keluhan utama masyarakat desa. Karena sebagian warganyapun menjadi buruh dan petani cengkeh.

Akibat dari penurunan harga cengkeh itu, belum bisa diketahui. Namun Dede menduga, hal itu merupakan pemainan harga yang dilakukan pengepul.

“Kalau harga cengkeh turun, ya tentunya perekonomian di masyarakat Desa Sukajadi jadi lemah juga. Karena cengkeh itu salah satu andalan mereka,” kata dia.

Namun, lebih dikhawatirkan lagi, harga cengkeh akan terus menurun. Beberapa waktu lalu, sempat sampai harga terendah Rp 50 ribu per kilogram.

“Dulu pernah sampai Rp 50 ribu. Saya harap, kali ini tidak seburuk itu, kasian para petani,” keluhnya. (eri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed