Wah, Air Jatigede Turun

Wah, Air Jatigede Turun

MENYUSUT: Air permukaan bendungan Jatigede diduga menyusut, itu terlihat di wilyah eks Dusun Jatisari, Desa Jatibungur, Kecamatan Darmaraja, kemarin. (IGUN GUNAWAN/SUMEKS)

PEWARTA: Igun gunawan

DARMARAJA – Air di bendungan Jatigede terus menyusut, hal itu terlihat setiap hari area yang kering terus bertambah. Sumber dari Komunitas Keuyeup Bodas yang terus melakukan pemantauan di areal Jatigede, terutama di situs deungdeum yang terendam memprediksi ketinggian mukai air bendungan saat ini dibawah 251 mdpl.

“Sekarang terus menyusut dua meter lebih, kalau sebelumnya air itu sampai ke makam sekarang sudah susut dan sangat jauh. Tidak tahu apakah susutnya itu karena tidak ada hujan turun, atau karena air di keluarkan, kita belum melakukan konfirmasi itu,” kata Hadi Barkah, pada Sumeks kemarin.

Di eks Desa Jatibungur, turunnya air muka bendungan juga disambut gembira warga. Tak hanya itu, sejumlah warga pun berusaha mengenang saat-saat mereka melintas kawasan Dusun Jatiroke, Desa Jatibungur.

“Saya tidak menyangka bisa melintas lagi jalan ini,” kata Ade saat berkeliling dengan motor di atas jalan yang sudah tertutup lumpur.

Di lokasi itu memang sangat terlihat air menyusut, karena berbentuk terasering sawah. Sehingga begitu air sampai ke satu titik ketinggian pasti bisa diprediksi. Menyusutnya air bendung juga di gunakan sejumlah pihak untuk melakukan pembongkaran sisa bangunan yang masih ada.

“Iya saya melihat ada warga yang melakukan pembongkaran, meski memang bukan di eks rumahnya lagi,” papar Pitri.

Sementara itu akibat adanya bendungan Jatigede pun, ternyata berimbas pada perubahan cuaca. Suhu udara, saat ini menjadi lebih panas, baik siang maupun malam hari. Pemanasan suhu udara karena pengaruh dari air waduk tersebut bukan hanya terjadi di sekitar waduk Jatigede saja, seperti di wilayah Darmaraja, Wado dan Cisitu, ternyata pemanasan suhu udara tersebut juga dirasakan oleh warga di wilayah Desa Cimanintin, Kecamatan Jatinunggal.

Salah satu warga setempat, Ani menyebutkan, bahwa udara di wilayahnya itu saat ini mengalami kenaikan suhu menjadi lebih panas, hal itu dirasakan oleh warga setelah sebagian wilayah Jatigede, Darmaraja dan Wado terendam oleh air.
“Pokonya udara disini menjadi panas, semenjak adanya bendungan Jatigede,” kata dia.
Padahal, menurut letak geografis wilayah tersebut cenderung ke wilayah yang masih banyak terdapat pohon-pohon yang besar dan bisa dikatakan juga wilayah pegunungan, warga juga menyatakan bahwa udara ditempatnya itu, sebelum ada bendungan Jatigede cenderung sejuk.

“Dulu udara disini itu sangat sejuk, beda dengan udara saat ini,” kata dia.
Dengan adanya perubahan suhu udara itu, saat ini warga memprioritaskan untuk memiliki kipas angin di rumahnya, sebab mulai dari pukul 12:00 sampai pukul 14:00 suhu udara meningkat tajam, sedangkan masyarakat di wilayah tersebut belum terbiasa dengan suhu seperti itu, solusinya mereka menggunakan kipas angin.

“Sekarang kipas angin jadi kebutuhan utama, jam dua itu lagi panas-panasnya kalau tidak di bantu dengan kipas akan semakin panas,” katanya.
Ani menambahkan, kalau sudah biasa dengan suhu seperti ini, mungkin tidak akan banyak warga yang mengeluh kepanasan. (eri)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.