Warga Ciawitali Minta Galian C Ditutup

Warga Ciawitali Minta Galian C Ditutup

DATANGI GALIAN: Warga Dusun/Desa Ciawitali Kecamatan Buahdua mendatangi galian pasir di wilayah tersebut dan meminta aktifitasnya ditutup, belum lama ini.(ATEP BIMO AS/SUMEKS)

PEWARTA: ATEP BIMO AS/SUMEKS

BUAHDUA – Warga Dusun/Desa Ciawitali Kecamatan Buahdua, diresahkan dengan adanya aktivitas galian pasir yang menggunakan alat berat di wilayah tersebut. Warga mengkhawatirkan akan terjadinya longsor yang menimpa pemukiman yang tidak jauh dari lokasi galian pasir.

Puluhan warga, pun sempat mendatangi lokasi galian pasir itu. Warga setempat menuntut agar aktivitas galian pasir, dihentikan dan ditutup karena dianggap membahayakan keselamatan warga.

“Saya merasa khawatir aktivitas galian pasir membahayakan warga Dusun Ciawitali. Karena, kontur tanah yang digali saat ini merupakan tebing sehingga rawan longsor,” ujar Kepala Desa Ciawitali Faturohim, baru-baru ini.

Ibro, panggilan akrab Faturohim, mengingatkan saat ini sering terjadi hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan kejadian longsor dimana-mana. Pihaknya tidak ingin hal itu terjadi di wilayah Dusun Ciawitali. “Makanya, kami ingin galian pasir ditutup agar tidak membahayakan warga,” tegasnya.

Ibro menuturkan, selain warga mengkhawatirkan adanya longsor, aktivitas galian pasir juga berdampak pada yang lainnya. Seperti, sekitar tiga hektare sawah dan perkebunan warga menjadi rusak serta dua mata air menjadi hilang.

“Memang dari dulu warga mengeluhkan dampak galian pasir ini, karena limbah dari galian pasir ini merusak lahan warga. Baik sawah ataupun perkebunan,” tuturnya.

Ibro juga mempertanyakan adanya aktivitas cluster di galian tersebut. Sebab, sepengetahuannya tidak pernah ada pengajuan ijin cluster. “Meskipun sekarang tidak (cluster) produksi, kalaupun ada ijinnya, itu bodong,” tuturnya.

Dikatakan Ibro, luas wilayah galian di lokasi tersebut mencapai sekitar 50 hektare. Padahal, sepengetahuannya Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) galian tersebut hanya 13 hektare. Disinyalir, perluasan galian tersebut tanpa seizin pemilik tanah.

“Kami berharap dinas terkait dan aparat hukum menindaklanjuti keluhan masyarakat. Yang saya takutkan dampaknya, kampung yang dekat galian kena longsor. Jangan sampai juga warga marah, bisa-bisa alat berat dibakar,” ujarnya.

Sementara itu, seorang warga setempat Daman, 50, mengatakan keberadaan galian C merugikan warga. Belasan hektar areal sawah dan kebun warga rusak akibat aktivitas galian.

Semenjak adanya aktivitas galian di wilayah Dusun/Desa Ciawitali, lingkungan sekitar menjadi rusak. Bahkan, puluhan warga pemilik sawah dan kebun mengalami kerugian akibat lahan mereka tertutup disposal. “Sawah saya 400 bata kena longsor, otomatis tanaman padi juga pada mati. Ini jelas merugikan,” kata Daman.

Selain itu, lokasi galian juga menutup saluran air Sungai Cibeber. Akibatnya, jika turun hujan air sungai kerap meluap, sehingga membanjiri areal sawah warga. “Sudah pernah kejadian, begitu panen padi warga itu terbawa hanyut. Airnya jadi balik, meluap, jadi sawah warga kebanjiran,” tuturnya.

Warga telah mengeluhkan terkait aktivitas galian tersebut ke pemerintah desa. Selain itu, warga dan aparat desa setempat juga sudah sering mendatangi lokasi galian untuk berdiskusi dengan pengelola galian. Diakuinya, warga tidak menerima ganti rugi kerusakan sawah mereka dengan layak. “Ada penggantian, tapi tidak sesuai dengan kerugian yang dialami,” tuturnya.

Warga meminta aktivitas galian dihentikan. Lokasi galian memang tepat berada diatas lahan sawah dan kebun warga. “Tapi tetap saja galian masih beraktivitas,” ujar warga lainnya. (atp)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.