oleh

Waspada Potensi Pandemi Flu Babi G4

SUMEDANGEKSPRES.COM , JAKARTA – Potensi pandemi flu babi G4 EA H1N1 patut diwaspadai Pemerintah Indonesia. Walaupun potensi tersebut sangat kecil.

Dikutip dari fin.co.id, pengendalian dan pencegahan penyakit (CDC) China, seperti dilansir dari South China Morning Post (SCMP), Senin (6/7), menyebutkan pandemi virus flu babi G4 memiliki potensi, namun bukan ancaman kesehatan masyarakat secara langsung.

“Pada tahap ini, virus G4 tidak menyebabkan peningkatan risiko pandemi dibandingkan dengan strain sebelumnya,” kata CDC.

Meski demikian, Direktur CDC China, Gao Fu, menyerukan pengawasan ketat terhadap virus tersebut, terutama di antara pekerja industri ternak babi.

Menurut CDC, reassortment dan mutasi virus influenza adalah hal biasa dan mereka dapat menyebabkan pandemi.

Saat ini tidak ada cara untuk memprediksi kapan, bagaimana atau dari mana virus influenza baru akan menyebabkan pandemi.

Untuk itu, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Subandrio meminta Pemerintah Indonesia untuk mewaspadai virus flu babi G4 EA H1N1 yang kemungkinan bisa menjadi pandemi.

“Karena dia membawa semua gen yang pernah menimbulkan pandemi,” katanya, Senin (6/7).

Ini diperkuat dengan pengamatan para ahli terhadap para peternak yang pernah terpapar. Artinya, secara serologi terbukti mereka ada antibodinya terhadap virus itu sehingga menunjukkan ada paparan. Walaupun hingga kini belum ada penjelasan virus tersebut bisa menularkan dari manusia ke manusia.

Dijelaskannya, virus G4 EA H1N1 tersebut pada dasarnya bukan hal baru. Bahkan telah bersikulasi cukup lama dan keturunan dari H1N1 pandemi Spanyol pada 1918.

“Jadi virus ini masih keturunan H1N1 pandemi 2009,” ujarnya.

Kemudian virus tersebut juga membawa gen EA dan TR. Artinya, virus itu sudah terdapat beberapa gen sehingga menarik perhatian para peneliti yang berpotensi terjadinya pandemi.

Kondisi yang demikian, Amin menyarankan agar surveilans perlu ditingkatkan. Sehingga mampu menangkal terjadinya pandemi di Tanah Air.

“Terutama surveilans di hewan,” katanya.

Peningkatan surveilans sangat dibutuhkan. Sebab, pintu masuk virus tersebut untuk menyebar di Indonesia sangat banyak.

“Surveilans jangan hanya pada ternak, tapi juga pada manusia terutama para peternak babi. Itu harus dilakukan. Kita tetap harus waspada jangan sampai kita mengalami beban ganda,” ungkapnya.

Amin juga meminta agar masyarakat yang bekerja sebagai peternak atau bisnis di bidang peternakan babi harus lebih waspada. Dan tak kalah pentingnya untuk rutin memperhatikan gejala infeksi virus G4.

“Kalau tiba-tiba muncul gejala infeksi saluran napas baik ternak maupun manusia, harus segera diselidiki,” katanya.

Ciri-ciri dari penyakit tersebut, ujar Amin, juga sama dengan kejadian pandemi H1N1 2009 yaitu menyerang saluran pernapasan.

Penularan virus tersebut dari satu hewan ke hewan lainnya hingga ke manusia dapat terjadi melalui percikan air liur atau droplet.

“Terakhir saya mengimbau masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan karena tidak hanya COVID-19 dan flu babi saja tapi masih ada virus-virus lainnya di sekitar kita,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan pemerintah terus melakukan surveilans untuk mengantisipasi pandemi flu babi G4.

“Jadi surveilans kita masih jalan untuk memantau kemungkinan mengenai hal itu. Untuk mendeteksi kemungkinan kasus pada orang atau petugas, pekerja yang bekerja di peternakan (peternakan babi). Meski sebenarnya itu ranahnya Kementerian Pertanian (Kementan),” katanya, Kamis (2/7).

Tidak hanya surveilans, lanjut dia, Kemenkes juga mempunyai tugas menginformasikan penemuan kasus pada orang yang sakit flu terhadap pekerja di peternakan babi.

“Kemudian oleh Puskesmas bersama Dinas Peternakan sama-sama melakukan kajian epidemiologi kalau di suatu daerah mungkin ada,” katanya.

Sementara, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengatakan dalam mengantisipasi masuknya G4 EA H1N1 ke Indonesia, pihaknya memperketat pengawasan lalu lintas hewan dan produk hewan.

“Nanti di pintu pemasukan ada pemeriksaan-pemeriksaan lebih ketat, kemudian ada pengambilan sampel untuk diuji di laboratorium,” katanya.

Selain itu, Kementan juga mempersiapkan laboratorium kesehatan hewan untuk mendiagnosa guna mendeteksi keberadaan virus flu babi tersebut.

Menurutnya, Indonesia sudah dinilai maju dalam melakukan surveilans untuk mendeteksi dini virus influenza tipe A dengan menggunakan fasilitas Influenza Virus Monitoring (IVM).

“Kita akan tingkatkan pengawasan dengan menggunakan fasilitas IVM di mana fasilitas ini juga dibantu oleh WHO (Organisasi Kesehatan Dunia),” katanya.(gw/fin)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

News Feed