oleh

Widodo: Gali Potensi Sumedang

IBARAT sebuah dongeng, Sumedang dianalogikan seperti kisah putri tidur nan cantik dan rupawan. Sehingga, saatnya tiba, Sumedang akan lebih maju dengan kemunculan sosok pemimpin pilihan masyarakat pada pilkada 2018 mendatang.

Hal itu, sebagaimana diungkapkan Bakal Calon Bupati Sumedang Kompol (Purn) Setya Widodo, saat mengawali diskusi Pilkada 2018 bertajuk Menuju Pendopo di Kantor Harian Pagi Sumedang Ekspres/Sumeks, (24/1) malam.

Bagi mantan Kepala Bagian Operasi (Kabag Ops) Polres Sumedang ini, Sumedang memiliki potensi yang luar biasa. Baik sumber daya alam maupun sumber daya manuasianya. Namun demikian, kata dia, sebagain besar potensi itu belum tergali dan terkelola dengan baik.

Dia pun mencontohkan, potensi wisata Cipanas Cileungsing di Kecamatan Buahdua. Meski kondisi alamnya menjanjikan, namun kalah pamor dengan Cipanas Garut. Begitupun dengan banyaknya air terjun di berbagai pelosok Kabupaten Sumedang, dengan panorama alamnya, seharusnya bisa dikelola dengan baik dan ujungnya memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

Untuk mengelola beragam potensi ini, ujar Wododo, memang dibutuhkan sumber daya manusia yang tepat dan profesional atau sesuai dengan keahlian. “Jika potensi-potensi ini dikelola oleh para ahlinya, saya yakin Sumedang akan lebih maju dari sekarang, tidak hanya dari potensi wisata tapi juga bidang lainnya,” tegas Widodo.

Selain profesional, tambah Widodo, pengelolaan potensi Sumedang juga harus proporsional dan dibarengi administrasi yang tertata dengan baik.

“Administrasi ini juga penting. Tatkala pengadministrasian diabaikan, banyak pula persoalan yang tidak termenej dengan baik. Contoh data Program Keluarga Harapan atau Program Raskin, hampir dari tahun ke tahun datanya masih sama, sementara angka kemiskinan bertanbah. Bahkan, ironisnya program-program untuk masyarakat miskin ini, ada juga yang tidak tepat sasaran,” ungkapnya.

Memang, diakui lelaki berperawakan tegap ini, sejak tahun 1997/1998 hingga sekarang, masih merupakan era transisi dari pemerintahan orde baru pada orde reformasi. Sehingga, kata dia, terjadi pergeseran dalam segala bidang. Dan tidak pula, katanya, semudah membalikkan telapak tangan.

Namun, tegas Widodo, bukan berarti tidak ada solusi dalam mengatasi persoalan ini. “Solusinya, harus dimulai dari keteladan pemimpin dari berbagai tingkatan, termasuk kepala daerah,” tutur Widodo.

Dia pun menawarkan resep, dalam menemukan sosok pemimpin yang bisa menjadi teladan bagi masyarakatnya. “Pertama, pemimpin itu harus jujur. Jujur menjalankan amanah dan mampu menghadang invertensi pihak lain yang mementingkan urusan pribadi maupun golongannya,” jelas Widodo.

Sebab, ujar dia, taktala seorang pemimpin bisa diintervensi piha lain, maka akan merusak tatanan yang ada. “Jadinya, pemimpin hanya mengakomodir pihak-pihak untuk kepentingan pribadi. Tidak bisa menolak ‘titipan’, bahkan takut diserang pihak lain,” tuturnya.

Resep kedua menjadi pemimpin, terang Widodo, adalah disiplin. “Tidak hanya disiplun urusan kehadiran di kantor, lebih luas lagi disiplin dalam segala bidang. Displin menjalankan program maupun pertanggungjawaban, misalnya,” kata lelaki yang mengawali karir kepolisian dengann pangkat sersan dua ini.

Ketiga, lanjut Widodo, pemimpin harus tegas. “Semua perintah yang berdasarkan peraturan harus dilaksanakan sampai ke tingkat bawah. Selama perintah itu benar, semua harus kompak menjalankannya. Tidak boleh ada yang leha-leha,” tegasnya.

Dan keempat, ujar dia, jadi pemimpin harus berani. “Yang dihadapi masyarakat ini heterogen. Bisa jadi ada segelintir pihak yang diuntungkan tapi malah justru merugikan masyarakat secara luas. Pemimpin harus berani menjalankan yang berpihak pada masyarakat, secara terbuka. Jangan takut sama pihak lain yang mengeruk kepentingan pribadi,” tegas Widodo yang juga pernah menduduki posisi Kasat Serse ini.

Dan resep terakhir, kata Widodo, pemimpin harus cerdas. “Pemimpin harus nenguasai aturan yang ada, begitu pula mekanisme pengelolaan keuangan. “Ini bukan berarti pemimpin mengintervensi kerja pejabat di bawahnya, tapi pemimpin juga harus paham dengan aturan-aturan yang ada,” tutup Widodo. (red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed