Wisata Sumedang Minim Promosi

Peliput/Editor: asep herdiana/usep adhiwihanda

Wisata Sumedang Minim Promosi

KURANG TERAWAT: Lokasi Taman Hutan Raya (Tahura) di kawasan wisata Gunung Kunci kondisinya kurang terawat dan minim digunakan untuk pertunjukan. (FOTO HANDRI S BUDIMAN)

KOTA – Destinasi wisata di Kabupaten Sumedang dinilai kurang promosi. Akibatnya, potensi yang ada di Tatar Lingga ini, tidak seterkenal kota-kota lain di Jawa Barat. Padahal, promosi wisata daerah mutlak diperlukan jika pemerintah serius memajukan pariwisata Sumedang.

“Prinsipnya, orang harus mengenal dulu, baru mau datang. Memang, untuk mengurus ini tidak mudah,” kata Dadan Hendaya, pegiat wisata, saat berbincang bersama Sumeks baru-baru ini.

Menurutnya, konsep promosi untuk meningkatkan brand harus dipahami. Sehingga, Pemkab tidak terjebak persoalan kurang memadainya infrastruktur pariwisata. Sebab, jika bicara infrastruktur, maka tidak akan ada habis-habisnya, dan selalu saja ada kekurangan.

“Jadi harus dibalik, mulai dari promosi dulu. Kemudian, baru masuk produknya (paket wisata), sembari tentunya membenahi infastruktur,” kata pria yang berprofesi sebagai dosen itu.

Ia juga mengatakan, pemerintah bukan hanya membutuhkan promosi oleh pihak dalam, akan tetapi kerja sama dengan asosiasi jasa pariwisata, seperti Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita).

“Mulailah duduk bersama dan menentukan strategi ke depan. Karena, sejatinya potensi pariwisata di Sumedang ini demikian besar namun belum tergarap optimal,” kata dia.

Sumedang memiliki sejumlah potensi wisata, yakni wisata religi, wisata kuliner, wisata sejarah atau heritage. Untuk wisata heritage, di Sumednag kaya peninggalan bangunan bersejarahnya. Semasa pendudukan Belanda, dapat dilihat dari beberapa peninggalan bangunan.

Menurutnya, saat ini, wisatawan sekitar 35 persen tertarik terhadap faktor alam, seperti ekologi dan kelautan. Sekitar 60 persen tertarik kuliner, religi, dan sejarah. Sedangkan peminat wisata buatan, seperti pertunjukan dan beragam pameran hanya lima persen.

“Masyarakat pun harus turut andil, jadi percuma jika pemerintah sudah jor-joran promosi, sementara masyarakatnya diam saja, atau bahkan malah lebih suka wisata ke daerah lain. Sebagai orang Sumedang, harus mempunyai kecintaan terhadap lemah cai-nya sendiri,” katanya. (her)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js