Wisata Ziarah Ke Makam Leluhur Sumedang

Menapaki 438 Tangga , Sampai Puncak Gunung Lingga

Sumedang kaya akan sejarah, terutama yang berkaitan dengan Sumedang Larang. Salahsatunya patilasan atau tempat ngahyangnya Salahsatu Raja Sumedang Larang, Prabu Tadjimalela di Gunung Lingga, Kecamatan Cisitu. Berikut liputannya.

IGUN GUNAWAN, Cisitu

 SEJAK pagi kami sudah mempersiapkan perbekalan terutama air, dan kondisi kendaraan yang benar-benar fit. Hal itu perlu dilakukan karena perjalanan ke Gunung Lingga memiliki medan yang berat, meski saat ini jalannya sudah diaspal, namun sejumlah titik memilik tanjakan yang tajam. Jika tidak terbiasa kendaraan tidak akan kuat naik.

Perjalanan saya ke kawasan Gunung Lingga memang bukan kali pertama, sebelumnya saat acara paralayang internasional di gelar di sekitar kawasan tersebut, tepatnya di kawasan Batudua.

Untuk mencapai lokasi Gunung Lingga ada dua jalur alternative yang bisa digunakan, bisa masuk melalui jalan dari Desa Linggajaya, maupun melalui jalan Pasiringkik dan nantinya masuk ke Desa Cimarga.

Saya memilih untuk melintasi jalur melalui Pasiringkik, jalannya tidak terlalu ekstrim tanjakannya. Jadi, untuk kendaraan roda dua masih bisa dilalui. Meski jangan sampai telat tancap gas saat menghadapi tanjakan, jika lambat ya sudah harus didorong.

Jarum jam menunjuk angka 11 saat perjalanan kami dimulai, suasana begitu panas. Mungkin pengarus evaporasi dari adanya bendungan Jatigede. Sekitar 25 menit kami menempuh perjalanan dari Pasiringkik sampai ke warung tempat registrasi sebelum naik ke puncak gunung.

”Maaf motornya disimpan di sini saja,” kata pemilik warung ketika melihat seorang pengendara akan melaju terus ke kawasan puncak. Dia pun memundurkan motornya dan memasukkan ke tempat parkir yang bersebelahan dengan warung.

Pada saat itu kami sempat berbincang dengan pemilik warung, jika pemelihara makam saat ini sedang menjemput anaknya yang sekolah. Keadaan itu dimanfaatkan kami untuk beristirahat sejenak, apalagi menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan dan mengocok adrenalin.

Selang 15 menit kuncen Gunung Lingga yang bernama Dede tiba melintas, dan kami bersama-sama memulai perjalanan. Jalan kaki dari warung ke titik tangga di Gunung Lingga sepanjang 200 meter, setelah itu kami dihadapkan dengan 438 tangga dengan jarak normal sekira 400 meter.

”Kalau yang sudah biasa paling 12-18 menit, tapi kalau yang belum biasa bisa 30 menit,” kata Dede yang biasa bolak balik ke atas bukit hingga sepuluh kali perjalanan.

Baru sekitar seratusan tangga, saya pun sudah merasa lelah. Karena jalan yang menanjak, beruntung udara dingin khas hutan lindung begitu sangat terasa. Suasana itu membuat tenaga saya kembali pulih dan melanjutkan perjalanan.

Sayangnya masuk dua ratusan tangga, kaki sudah begitu terasa pegal. Saya pun duduk dan rombongan yang masih kuat dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan. Saya ditinggal sendiri, hanya ditemani suara tongeret.

30 menit saya baru sampai di puncak, di sini saya merasakan suasana begitu damai. Rumah-rumah untuk penginapan para penziarah berjejer, menaiki beberapa tangga saya pun sampai di patilasan Prabu Tadjimalela. Di sebuah batu yang berdiri satangtng, dililit dengan kain putih, ada beberapa batu pendukung di sampingnya di bawah sebuah pohon. Di pohon itu ada bendera merah putih, yang berkibar tertiup angin.

Seorang penziarah yang bersama kami, kemudian menyampaikan maksud dia berkunjung ke sana. ”Ya, sekarang, hampir tiap hari, ada yang datang berziarah,” kata Dede.

Ternyata yang berkunjung ke makam leluhur Sumedang ini tak hanya orang Sumedang, tapi banyak juga dari luar. Maklumlah siapa yang tidak kenal dengan Prabu Tadjimalela, dia merupakan orang yang mengganti Kerajaan Tembong Agung, menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam. Bahkan bekas-bekas Pilkada lalu pun Nampak di sini, saya melihat ada beberapa sticker Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumedang yang ditempel di tempat penginapan.

Dari perkatanaan Prabu Tadjimalela yang pernah berkata Insun Medal Insun madangan (Aku dilahirkan, Aku menerangi), kata itu konon yang melatar belakangi kata Sumedang. Diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang.

Namun ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.

Meski setiap hari ada tamu, namun yang paling banyak biasanya pada Kamis jelang malam Jumat, apalagi pada malam Jumat Kliwon.

Terlepas dari daya mistis yang kuat di kawasan itu, yang konon jika berdoa di sana akan membuat hajat seseorang cepat terkabul. Karena itulah, tempat ini dari dulu hingga sekarang, selalu menjadi tujuan ziarah.

Pemandangan yang eksotis membuat kami betah berlama-lama di sana, apalagi ada beberapa saung penginapan. Kalau kamu penasaran yu ziarah ke makam Prabu Tadjimalela. (*)

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.