Yonif 301 Prabu Kian Santang Kenalkan Angklung pada Anak-anak Papua

Peliput/Editor: asep herdiana/handri s budiman

Yonif 301 Prabu Kian Santang Kenalkan Angklung pada Anak-anak Papua

GAMPANG BERBAUR: Dansatgas Yonif 301 PKS terlihat mengarahkan sejumlah anak-anak di Papua, untuk memainkan angklung, baru-baru ini. (YONIF 301 FOR SUMEKS)

Menjaga keamanan, ketertiban dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sudah menjadi tugas pokok Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sejak beberapa bulan ke belakang, Satuan Tugas (Satgas ) Batalyon 301 Prabu Kian Santang (PKS) ditugaskan ke Marauke, Papua untuk menjaga perbatasan RI dengan Papua Nugini (PNG), sebagai upaya Negara dalam mengamankan wilayahnya. Berikut catatannya.

Setiap hari, rutinitas para prajurit, melakukan kegiatan patroli dan berkeliling untuk memonitor patok dan wilayah perbatasan. Namun, di sela kegiatan rutin, ada terselip kegiatan lainya yang dilakukan prajurit baret hijau itu. Yakni, mengajarkan seni, Salah satunya, alat musik angklung kepada anak-anak sekolah setempat.

Komandan Satgas Yon 301 PKS Letkol Inf M Mahfud As’aat mengatakan, kegiatan dilakukan di sela aktivitas rutin prajurit menjaga wilayah. Menurutnya, kegaiatan tersebut, sebagai bentuk andil TNI dalam ikut serta mencerdaskan bangsa, salah satunya di bidang seni.
“Seni itu, selain bagian dari budaya, juga merupakan pendidikan yang bisa membentuk karakter anak. Jadi, ini sebagai salah satu cara TNI dalam ikut serta mencerdaskan bangsa,” ujar Mahfud, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (20/10).

Ia menceritakan, beberapa momen menarik adalah saat prajurit TNI mengajarkan alat musik angklung kepada anak-anak Marauke. Mereka, sempat kebingunan bagaimana memainkannya. Bahkan, bahkan sebagian besarnya tidak mengetahui nama alat musik asal Jawa Barat itu. Tetapi, lambat laun, setelah diajarkan, mereka mulai mengerti cara memainkannya, dan sangat senang serta antusias.

“Awalnya mereka heran dan bertanya alat musik apa ini? Jangankan memainkannnya, namanya saja mereka tidak tahu. Tapi, setelah kami ajarkan, justru mereka lebih lihai, dan sangat antusias dalam belajar angklung,” terang Mahfud.

Bukan itu saja, kegiatan lain meliputi pendidikan anak usia dini, pendidikan nonformal, pembinaan pendidikan dasar, pendidikan layanan khusus, kebahasaan, penelitian dan pengembangan, serta pengembangan sumber daya manusia juga dilakukan TNI, termasuk bahasa Indonesia yang baik dan benar.

“Kita semua tidak ingin, di daerah perbatasan bahasanya konversi, jadi di lingkungan kami pun, kadang mengajarkan berbahasa Indonesia yang baku, ” katanya.

Di tempat penugasannya, Satgas Yon 301 PKS bisa berbau dengan masyarakat setempat, hal itu tak menjadi suatu yang mengherankan. Sebab, Dansatgas mengatakan, bahwa sebelum diberangkatkan, anggotanya sudah dibekali metodologi belajar dan psikologi pendidikan, sehingga memudahkannya dalam berbaur dan mengajar kepada anak-anak di wilayah sekitar.
“Anggota kami sudah dibekali kemampuan psikologi pendidikan, dan ini sangat memudahkan para prajurit dalam berbaur dengan masyarakat,“ katanya

Menurutnya, peran pendidikan juga mempunyai arti signifikan dalam mencetak sumber daya manusia yang patriotis dan nasionalis. Sesuai dengan amanat panglima, diamapun TNI berada harus bisa berarti untuk lingkungan dan masyarakat sekitar.

Iapun menegaskan, saat ini kondisi relatif aman. Oleh karena itu, kata dia, keberadaan pasukan TNI di daerah-daerah, khususnya di perbatasan dapat dioptimalkan untuk mendukung pendidikan nasional. “Alhamdulillah, hingga saat ini kondisi aman terkendali, namun demikian kami tetap siaga untuk menjaga perbatasan, “ tegasnya. (*)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js